CAHAYA IMAN KATOLIK

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Pertobatan dan Kepekaan Batin Akan Dosa

Pertobatan dan Kepekaan Batin Akan Dosa

Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan. (Hosea 10:12)


RELASI DENGAN TUHAN YANG TERJALIN MELALUI KEGIATAN ROHANI

Saya dilahirkan di Jakarta tapi saya menjalani masa kuliah di Bandung. Di kota Bandung inilah saya mengikuti aktivitas-aktivitas seperti BIA (Bina Iman Anak) di Gereja Santo Laurentius dan Legio Maria. Saya mengikuti kegiatan Legio Maria hanya beberapa kali saja lalu saya pun sudah tidak datang lagi. Hal ini disebabkan saya merasakan doa Rosario itu adalah doa yang panjang, monoton, dan membosankan, selalu membuat saya mengantuk. Namun, saya tetap aktif di kegiatan BIA hingga akhir masa kuliah saya.

Awal tahun 2001 saya pun lulus kuliah lalu kembali ke Jakarta. Di Jakarta saya hanya sibuk bekerja, tidak ada kegiatan rohani yang saya ikuti. Pada Agustus 2003 saya menginjak tanah Singapura untuk pertama kalinya. Saya hijrah ke Negeri Singa ini dengan harapan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih baik daripada di Jakarta. Saya kemudian aktif dalam kegiatan Muda Mudi Katolik (Mudika) di KKIS (Keluarga Katolik Indonesia) di Singapura.

Kegiatan-kegiatan rohani yang saya ikuti, baik semasa saya kuliah dan di KKIS, telah membawa saya kepada relasi yang dekat dengan Tuhan. Saya mempunyai iman yang besar bahwa tidak ada yang tidak bisa diatasi selama kedua tangan terlipat dan tekuk berlutut, alias berdoa.

Relasi yang dekat dengan Tuhan saya rasakan dalam pengalaman-pengalaman rohani yang terjadi dalam hidup saya. Salah satunya, ada suatu malam, di dalam kamar saya di Bishan, saat saya sedang bernyanyi sendiri memuji Tuhan, tiba-tiba saya menerima rahmat damai dan kasih Tuhan. Saya mendengar bisikan, "God loves you (Tuhan mengasihimu)." Mendengar bisikan ini, saya menangis, air mata saya mengalir deras, jiwa saya merasa sangat terharu karena merasakan kasih Tuhan yang begitu besar kepada saya. Selama menangis, saya merasakan sukacita dan kedamaian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

KEJATUHAN DALAM DOSA-DOSA BERAT

Ketika usia semakin bertambah, saya merasakan seperti ada jarak usia yang cukup signifikan dengan para anggota Mudika yang baru. Kemudian saya pun mulai menarik diri dari aktivitas mudika, memberikan kesempatan kepada muda mudi baru untuk aktif terlibat dan bertumbuh dalam mudika.

Pada tahun 2009 saya mulai sibuk memadu kasih dengan kekasih yang berbeda agama dan mulai jarang ke gereja. Hanya sesekali saya ke gereja dan kekasih saya tidak berkeberatan ikut menemani. Awal April 2011 kami menikah dan saat saya hamil yang pertama kali, saya sudah tidak ke gereja lagi.

Pada Agustus 2011 saya mengalami keguguran, janin yang baru berusia 9 minggu tidak berkembang dan tidak ada detak jantungnya lagi. Walaupun sedih, saya tetap bisa bangkit dari kesedihan dan berharap akan dikaruniakan anak lagi. Pada Oktober 2012 saya melahirkan anak sulung. Hingga saat ini saya sudah dikaruniai tiga anak yang sehat.

Semenjak anak sulung saya berusia setahun lebih, dia mulai menunjukkan kalau dia bisa melihat keberadaan roh. Ketika si sulung berusia tiga tahun dan anak yang kedua berusia setahun, saya mulai merasakan gangguan-gangguan roh terhadap kedua anak saya itu. Gangguan itu bahkan sampai menyebabkan si sulung terluka dan anak kedua menderita sakit aneh. Saya pun terkadang bisa merasakan kehadiran roh tersebut di dalam rumah saya. Ibu saya bahkan pernah melihat sosoknya sekali. Ibu dan adik saya yang sedang datang berkunjung juga pernah mengalami gangguan.

Di sinilah awal saya mulai jatuh dalam dosa besar. Alih-alih mengandalkan Tuhan, saya malah mengikuti saran orang tua dan mertua dengan mengandalkan jimat-jimat, bahkan mengijinkan mertua melakukan ritual pengusiran roh dengan kuasa allah lain. Sekarang saya menyadari bahwa sebetulnya itu adalah kuasa kegelapan karena saat saya melihat mertua saya melakukan ritual tersebut saat itu, saya merasa takut dan tidak nyaman.

Mempercayai dan mengandalkan allah lain merupakan suatu kekejian di mata Allah Maha Kuasa, suatu bentuk pengkhianatan yang sangat menyedihkan-Nya. Suatu dosa besar. Alih-alih rumah saya bersih dari gangguan roh, ternyata saya dan keluarga tetap saja mengalami gangguan.

KESADARAN BATIN UNTUK BERTOBAT

Dalam masa-masa tersebut, semenjak saya jarang ke gereja, bahkan tidak ke gereja lagi selama bertahun-tahun, telah membuat saya menjadi jauh dari Tuhan. Saya tidak merasakan kedekatan dengan-Nya lagi. Kemampuan saya untuk bernyanyi memuji Tuhan dengan nada dan syair sekeluarnya dari pikiran pun menjadi hilang. Walau kadang saya terpikir akan Tuhan namun selalu ada keyakinan bahwa doa saya tidak akan berguna.

Saya merasa seakan ada kabut tebal yang menutupi batas pengetahuan akan yang baik dan yang buruk. Jadi, saat melakukan sesuatu yang tidak baik, sepertinya saya tahu tapi tidak tahu. Walaupun saya tahu bahwa hal itu tidak baik namun selalu ada pikiran kuat akan pembelaan yang membenarkan tindakan tidak baik tersebut. Akibatnya saya selalu merasa tidak bersalah, merasa sah dan wajar saja melakukan tindakan tidak baik tersebut.

Rasa letih secara psikis karena selalu merasa khawatir akan gangguan roh akhirnya membuat saya sampai kepada satu titik di mana saya menyadari bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang sanggup menolong. Kesadaran ini tiba-tiba terbuka dalam pikiran saya. Hanya Dia, Allah dari segala allah, satu-satunya Allah Maha Kuasa yang bisa memberikan kekuatan untuk melawan para roh kegelapan ini.

Awal Juli 2019 saya berusaha untuk mencari wajah-Nya lagi, ingin dekat dengan-Nya lagi. Saya mulai mencoba baca Alkitab, berdoa, bernyanyi pujian, dan mengusahakan untuk berdoa Rosario setiap hari. Pada Agustus 2019 saya mulai mengajak suami dan anak-anak saya untuk ke gereja. Bukan suatu hal yang mudah mengingat suami saya adalah seorang non-Katolik dan anak-anak saya tidak pernah sekalipun ke gereja sebelumnya. Namun, saya percaya, semua sudah diatur-Nya dengan sempurna dan indah pada waktu-Nya.

BUAH-BUAH PERTOBATAN

Dalam masa-masa pertobatan ini, kabut yang menutupi batas pengetahuan baik dan buruk itu mulai menipis sehingga saya bisa lebih membedakan yang baik dan yang buruk. Walaupun ada pikiran pembelaan atas tindakan yang tidak baik namun juga ada pikiran lain yang melihat dari sisi lain, yaitu sisi kebaikan, yang menunjukkan di mana letak kesalahan atas tindakan tidak baik tersebut. Kemampuan saya untuk bernyanyi memuji Tuhan dengan nada dan syair sekeluarnya dari pikiran pun mulai kembali.

Saya juga tahu dan merasakan bahwa Tuhan menghendaki saya untuk melakukan sesuatu untuk-Nya, tetapi saya tidak tahu apa itu. Mengikuti petunjuk-Nya, saya mengakukan dosa-dosa saya di hadapan salah seorang imam dan bersimpuh di depan Sakramen Maha Kudus, meminta ampun atas dosa pengkhianatan saya, dan berjanji untuk menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat bagi saya.

Setelah pengakuan dosa di hadapan imam, saya menerima karunia Roh Kudus yang membuat saya akhirnya mengetahui apa yang Tuhan kehendaki saya lakukan untuk-Nya, yaitu berdoa dan menulis. Kemudian saya juga menerima rahmat-rahmat-Nya, seperti rahmat pengenalan dan pengetahuan lebih dalam tentang Allah TriTunggal dan Kerajaan-Nya, rahmat cara berdoa dengan jiwa, rahmat purifikasi, dan lainnya.

Setelah saya menerima rahmat purifikasi (mengalami ekspresi-ekspresi purifikasi jiwa dalam doa), kabut yang menutupi pengetahuan baik dan buruk itu pun menjadi tiada. Saya juga merasa seakan ada selubung yang selama ini menutupi jiwa saya pun jadi terangkat. Dengan tersingkapnya selubung jiwa dan lenyapnya kabut ini, saya pun menjadi bisa melihat hal kebaikan dan keburukan dengan jauh lebih jelas. Saat menyadari telah melakukan tindakan keburukan maka kesadaran itu akan membuat saya merasakan siksaan batin berupa kesesakan hati penyesalan akibat kesilapan melakukan hal yang tidak baik tersebut, walaupun hal itu hanya berupa kesalahan kecil sekalipun, contohnya saat secara reflek saya menjewer telinga anak. Hal ini membuat saya berusaha secara teratur sebulan sekali untuk pergi mengakukan dosa di hadapan imam.

Segala karunia dan rahmat yang saya terima dari Tuhan tidak menjadikan saya sebagai orang suci yang bebas dari segala dosa. Sebaliknya, saya tetaplah seorang manusia yang lemah dan mudah jatuh dalam dosa, walau dosa kecil sekalipun.

Tidak ada satu pun manusia yang sempurna selain Yesus Kristus dan Bunda Maria. Hanya Allah yang sempurna. Kelemahan dan keterbatasan manusia akan tetap terus membuat manusia mudah jatuh dalam dosa. Yang terpenting adalah manusia tetap menyadari setiap kelemahan dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan, memohon ampun kepada Tuhan, dan terus berjuang untuk bangkit dari dosa. Berusaha dan berusaha terus tanpa jemu untuk menjadi lebih baik lagi.

Tuhan tidak akan pernah jemu mengampuni dosa manusia walaupun dosanya selalu sama, hanya yang itu-itu saja, apabila manusia sungguh tulus bertobat dan tetap selalu berusaha lebih baik.

tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. (Yesaya 59:2)

Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy

2 Desember 2019
HIS Little Servant
Yulianti Tay