Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Kebenaran Iman: Allah Tritunggal Dalam Hidupku
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Indulgensi Saat Pesta Kerahiman Ilahi
Rahmat Dalam Sakramen Rekonsiliasi
Sakramen Rekonsiliasi
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)
Sakramen pengampunan dosa atau rekonsiliasi adalah salah satu dari dua sakramen penyembuhan (KGK 1423–1424). Sakramen ini adalah sakramen penyembuhan rohani dari seseorang yang telah dibaptis yang terjauhkan dari Allah karena telah berbuat dosa.
Dosa adalah perbuatan melawan cinta kasih Tuhan dan sesama. Setiap dosa berarti manusia menjauhkan diri dari Tuhan. Dosa dilakukan secara sadar, dengan sengaja (diinginkan), dan dalam keadaan bebas, akan berakibat merugikan orang lain dan drinya sendiri serta merusak hubungan dengan Tuhan. Akibat dosa, manusia kehilangan rahmat Allah yang pernah ia terima dalam sakramen baptis. Dosa ikut mengotori kesucian Gereja Kristus. Relasi dengan sesama pun ikut rusak. Jika seseorang bertobat maka, ia pun berdamai kembali dengan Allah, Gereja, dan sesama.
Gereja melalui mereka yang memiliki kuasa para rasul, menjadi saluran rahmat pengampunan dan pendamaian Allah dalam Sakramen Pengakuan Dosa atau Sakramen Tobat. Yang dituntut dalam Sakramen Tobat bukan sekedar rasa sesal dan air mata, melainkan “metanoia” atau perubahan hati dan seluruh sikap hidup. Yang diminta Allah dari manusia adalah niat baik dan usaha pertobatan yang dilakukan manusia. Allah selalu siap menerima orang yang bertobat.
Sumber: Sakramen Pengakuan Dosa, https://www.kaj.or.id/dokumen/sakramen-sakramen/sakramen-pengakuan-dosa
Dulu saya berpikir bahwa dosa itu hanyalah urusan antara saya dengan Tuhan saja, jadi tidak perlu diakukan di hadapan imam. Oleh karena konsep pikiran seperti ini, hampir dua dekade saya tidak pernah mengaku dosa di hadapan imam. Namun, setelah saya berkeinginan untuk bertobat, ternyata Tuhan justru menyuruh saya untuk mengaku dosa di hadapan imam.
Bagaimana saya bisa tahu bahwa Tuhan menghendaki saya untuk pergi mengakukan dosa di hadapan imam?
Memang agak sulit bagi saya untuk menjelaskan mengapa saya bisa mengetahui hal ini. Yang jelas, masa-masa saya mulai ingin bertobat itu, memang ada suatu kesadaran batin dan pengetahuan yang selalu memberitahukan saya apa yang Tuhan kehendaki untuk saya lakukan. Jadi, saya pun berusaha untuk mengikuti apa yang Tuhan kehendaki dari saya itu berdasarkan kesadaran batin dan pengetahuan yang saya terima.
Setelah saya mengikuti kehendak Tuhan untuk menyatakan pertobatan saya dengan mengakukan dosa dan kesalahan saya di hadapan imam, menerima Sakramen Rekonsiliasi lalu saya pun menerima rahmat dan karunia-karunia-Nya. Rahmat dan karunia-Nya ini membuat saya mengerti mengapa Tuhan menghendaki saya untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi, atau biasa disebut juga dengan Sakramen Tobat, melalui imam. Karena itulah yang Tuhan Yesus telah tetapkan dan kehendaki untuk umat-Nya lakukan.
Karena Kristus telah percayakan pelayanan perdamaian kepada Rasul-rasul-Nya, maka pengganti-penggantinya, para Uskup dan rekan-rekan kerja mereka, para imam, terus melaksanakan pelayanan ini. Para Uskup dan imam telah menerima wewenang, berkat Sakramen Tahbisan, untuk mengampuni segala dosa atas nama Bapa dan Putra, dan Roh Kudus" (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1461)
Kristus sendiri hadir dalam pelayanan gerejani dari imam yang ditahbiskan dalam Gereja-Nya sebagai Kepala Tubuh-Nya, Gembala kawanan-Nya, Imam Agung kurban penebusan, dan Guru kebenaran. Gereja menyatakan ini dengan berkata bahwa seorang imam, berkat Sakramen Tahbisan, bertindak "atas nama Kristus, Kepala" [in per-sona Christi capitis]. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1548)
Berdasarkan KGK Nomor 1461 dan 1548 tersebut maka jelaslah bahwa Gereja Katolik meyakini akan kuasa-kuasa yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada Para Rasul-Nya yang kemudian terus dilanjutkan oleh para Uskup dan imam yang merupakan wakil-wakil Tuhan Yesus di bumi ini. Tentunya keyakinan Gereja Katolik akan hal pemberian kuasa oleh Tuhan Yesus kepada para wakil-Nya di bumi ini bukanlah tanpa landasan.
Tuhan Yesus sendirilah yang telah mengatakan hal ini yang termuat dalam ayat-ayat di Alkitab sebagai berikut:
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Matius 16:19)
Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yohanes 20:23)
Santa Faustina, seorang kudus yang banyak menerima pewahyuan pribadi dari Yesus, mencatat dalam Buku Harian-nya akan perkataan-perkataan Yesus mengenai pengakuan dosa di hadapan imam atau Sakramen Tobat/Rekonsiliasi. Beberapa catatan di antaranya adalah:
"Apabila imam bertindak sebagai wakil-Ku, ia tidak bertindak dari dirinya sendiri, tetapi Aku yang bertindak lewat dia. Harapannya adalah harapan-Ku." Kini, aku dapat melihat bagaimana Yesus membela wakil-wakil-Nya. IA sendiri masuk ke dalam tindakan mereka. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 331)
"Putri-Ku,... Jiwa yang mengaku dosa dan menyambut komuni kudus akan menerima pengampunan penuh atas dosa-dosanya dan akan bebas dari hukuman." (Buku Harian Santa Faustina Nomor 699)
Hari ini, Tuhan mengajar aku lagi bagaimana aku harus menghampiri Sakramen Rekonsiliasi, "Putri-Ku, sama seperti engkau mempersiapkan kehadiran-Ku, demikianlah engkau melakukan pengakuan dosamu di hadapan-Ku. Bagi-Ku, sosok seorang imam hanyalah tirai. Jangan pernah menganalisis imam macam apa yang Aku gunakan; dalam pengakuan dosa, bukalah jiwamu seolah-olah engkau melakukannya kepada-Ku, dan Aku akan memenuhinya dengan terang-Ku." (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1725)
Mungkin ada banyak umat yang meragukan dan sulit untuk memercayai akan hal ini.
Apakah sungguh perlu untuk mengaku dosa di hadapan imam?
Apakah mengaku dosa di hadapan imam adalah hal yang benar?
Apakah sungguh imam memberi kuasa pengampunan yang berasal dari Allah?
Apa bukti dan jaminan bahwa dosa saya sudah diampuni kalau saya sudah mengaku dosa di hadapan imam?
Dan mungkin berbagai pertanyaan lainnya yang bermunculan.
Bagi saya pribadi, berdasarkan pengalaman pribadi dan rahmat Roh Kudus-Nya, sangat jelas bahwa Tuhan Yesus menghendaki saya untuk rutin mengaku dosa di hadapan imam, setidaknya minimal sebulan sekali. Biarlah ada banyak pertanyaan keraguan yang muncul. Yang penting bagi saya adalah saya tahu apa yang Tuhan Yesus kehendaki untuk saya lakukan, yaitu mengaku dosa di hadapan imam, jadi itulah yang saya lakukan sesuai kehendak-Nya.
Sakramen Rekonsiliasi sangat penting bagi keselamatan jiwa dan kehidupan manusia. Ada banyak rahmat yang bisa umat terima melalui Sakramen Rekonsiliasi.
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
20 Desember 2020
HIS Little Servant
Yulianti Tay

