CAHAYA IMAN KATOLIK

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Persiapan Dalam Sakramen Rekonsiliasi

Persiapan Dalam Sakramen Rekonsiliasi

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5)


Kali ini saya masih akan menulis mengenai Sakramen Rekonsiliasi, bagaimana mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi.
Mengapa saya menulis begitu banyak mengenai Sakramen Rekonsiliasi?
Karena Sakramen Rekonsiliasi, yang disebut juga dengan Sakramen Tobat, adalah sebuah Sakramen yang sangat penting bagi umat. Namun sungguh disayangkan, makna dan manfaat Sakramen Rekonsiliasi sudah banyak dilupakan dan dianggap remeh oleh umat jaman NOW. Itulah sebabnya saya banyak menulis mengenai Sakramen Rekonsiliasi untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya dan bermanfaatnya Sakramen ini dalam kehidupan umat di dunia ini.

REFLEKSI DIRI SEBELUM MELAKUKAN PENGAKUAN DOSA

Proses pengakuan dosa di hadapan imam janganlah dianggap sebagai rutinitas biasa tanpa penghayatan. Diperlukan persiapan yang baik supaya umat sungguh bisa merasakan makna dan manfaat yang berarti dari Sakramen Rekonsiliasi.

Berdoalah terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan pengakuan dosa, mohonlah bimbingan Roh Kudus supaya umat bisa melihat dosa dan kesalahan yang telah umat perbuat, baik yang disadari ataupun tidak. Mohonlah supaya umat diberikan kekuatan untuk secara jujur mengakukan semua dosa dan kesalahan umat apa adanya tanpa merasa malu terhadap imam. Sering kali gengsi dan rasa malu menjadi halangan utama bagi umat untuk secara jujur mengungkapkan semua dosa dan kesalahan umat.

Menurut Pastor Chris Alar dalam ajarannya Explaining The Faith - Confession (Part 2), untuk pengakuan dosa menjadi sah maka diperlukan tiga hal di bawah ini:
- Akukan semua dosa besar yang bisa diingat.
- Harus dengan hati yang sungguh menyesal.
- Melakukan penyilihan atau penebusan dosa, dimulai dengan melakukan penitensi yang diberikan oleh imam saat pengakuan dosa.

"Pertobatan mendorong pendosa untuk menerima segala sesuatu dengan rela hati: di dalam hatinya ada penyesalan, di mulutnya ada pengakuan, dalam tindakannya ada kerendahan hati yang mendalam atau penitensi yang menghasilkan buah" (Catech. R. 2,5,21). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1450)

Pastor Chris Alar mengatakan bahwa sebagai panduan untuk mengetahui dosa apa saja yang sudah umat perbuat maka umat bisa lakukan dengan refleksi pemeriksaan diri apakah umat sudah melanggar Sepuluh Perintah Allah dan melakukan 7 Dosa Pokok.

Sepuluh Perintah Allah adalah:
1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
2. Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
3. Kuduskanlah hari Tuhan.
4. Hormatilah ibu bapamu.
5. Jangan membunuh.
6. Jangan berzina.
7. Jangan mencuri.
8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
9. Jangan mengingini istri sesamamu.
10. Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

Sedangkan 7 Dosa Pokok menurut Katekismus Gereja Katolik adalah:
Kebiasaan buruk dapat digolongkan menurut kebajikan yang merupakan lawannya, atau juga dapat dihubungkan dengan dosa-dosa pokok yang dibedakan dalam pengalaman Kristen menurut ajaran Santo Yohanes Kasianus dan Santo Gregorius Agung. Mereka dinamakan dosa-dosa pokok, karena mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain. Dosa-dosa pokok adalah kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, pencabulan, kerakusan, kelambanan, atau kejemuan [acedia]. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1866)

Terkadang umat merasa diri umat sudah menjadi orang baik, tidak berdosa berat, tidak melukai atau membunuh orang lain, tidak melakukan hal-hal buruk sehingga umat tidak bisa menemukan dosa apa yang telah umat perbuat yang perlu diakukan dalam pengakuan dosa. Tidak jarang, pikiran bahwa umat tidak berdosa berat ini membuat umat merasa tidak perlu pergi menghadap imam untuk pengakuan dosa. Umat tidak merasa bersalah, tidak merasa berdosa sehingga merasa tidak memerlukan pengampunan belas kasihan Allah melalui Sakramen Rekonsiliasi ini. Oleh karena itu, 10 Perintah Allah dan 7 Dosa Pokok adalah panduan yang baik bagi umat untuk memeriksa diri.

Pengakuan di depan imam merupakan bagian hakiki dari Sakramen Pengakuan: "Dalam Pengakuan para peniten harus menyampaikan semua dosa berat, yang mereka sadari setelah pemeriksaan diri secara saksama... juga apabila itu hanya dilakukan secara tersembunyi dan hanya melawan dua perintah terakhir dari sepuluh perintah Allah; kadang-kadang dosa ini melukai jiwa lebih berat dan karena itu lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan secara terbuka" (Konsili Trente: DS 1680). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1456)

MENGAKUKAN DOSA RINGAN DALAM SAKRAMEN REKONSILIASI

Lalu, apakah hanya dosa-dosa berat saja yang perlu diakukan dalam pengakuan dosa di hadapan imam?
Bagaimana dengan dosa-dosa ringan sehari-hari?
Gereja Katolik mengajarkan bahwa tidak ada kewajiban untuk mengakukan dosa-dosa ringan dalam Sakramen Rekonsiliasi karena dosa-dosa ringan umat telah diampuni saat umat mengucapkan doa pertobatan dalam ritus perjamuan Ekaristi, "Saya mengaku kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian..."
Perlu diperhatikan bahwa ritus pertobatan dalam perjamuan Ekaristi ini tidak diperuntukkan sebagai pengampunan akan dosa berat.

Oleh cinta yang disulut Ekaristi di dalam kita, ia menjauhkan kita dari dosa berat pada masa mendatang. Semakin kita ambil bagian dalam hidup Kristus dan semakin kita bergerak maju dalam persahabatan dengan-Nya, semakin kurang pula bahaya bahwa kita memisahkan diri dari-Nya oleh dosa besar. Tetapi bukan Ekaristi, melainkan Sakramen Pengampunan ditetapkan untuk mengampuni dosa berat. Ekaristi adalah Sakramen bagi mereka, yang hidup dalam persekutuan penuh dengan Gereja. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1395)

Walaupun tidak diwajibkan untuk mengakukan dosa-dosa ringan dalam Sakramen Rekonsiliasi namun Gereja Katolik sangat menganjurkan untuk pengakuan akan dosa ringan juga seperti yang tertulis sebagai berikut:

Pengakuan kekurangan sehari-hari, yakni dosa-dosa ringan, sebenarnya tidak perlu, tetapi sangat dianjurkan oleh Gereja. Pengakuan dosa-dosa ringan secara teratur adalah suatu bantuan bagi kita, untuk membentuk hati nurani kita melawan kecondongan kita yang jahat, membiarkan kita disembuhkan oleh Kristus dan bertumbuh dalam hidup rohani. Kalau kita dalam Sakramen ini sering menerima anugerah belas kasihan Allah, Ia lalu mendorong kita, agar kita sendiri juga berbelaskasihan seperti Dia. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1458)

PENGALAMAN PRIBADI DALAM PERSIAPAN SAKRAMEN REKONSILIASI

Saya pribadi, persiapan saya dalam Sakramen Rekonsiliasi sebulan sekali adalah dengan mempunyai catatan dosa. Setiap kali saya melakukan suatu dosa maka saya langsung minta ampun kepada Allah dan mencatat dosa ini dalam secarik kertas.

Saya ini bukanlah seorang ibu yang baik. Saya kerap emosi terhadap anak dan melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap anak. Setiap harinya adalah pergulatan untuk mengontrol emosi saya terhadap anak. Banyak kali saat emosi lebih menguasai diri sehingga saya melakukan hal-hal yang saya sesali maka saya akan catat perbuatan saya tersebut dalam catatan dosa saya.

Terkadang saya juga bisa tiba-tiba teringat dosa masa lampau yang belum pernah saya akukan dan saya merasa perlu untuk saya akukan. Maka dosa ini pun lalu saya catat dalam catatan dosa saya.

Terkadang saya juga diserang oleh pikiran-pikiran iri hati terhadap orang lain, pikiran menghakimi orang lain, pikiran meragukan Allah, pikiran kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain. Saat saya merasa sulit mengatasi pikiran-pikiran ini maka saya pun akan catat dalam kertas catatan dosa saya.

Sehari sebelum saya menghadap imam pengakuan saya maka saya akan refleksikan lagi catatan dosa selama sebulan ini. Saya pun berdoa memohon bimbingan Roh Kudus untuk menunjukkan dosa dan kesalahan saya lebih dalam lagi yang perlu saya akukan dalam pengakuan dosa. Apabila dalam refleksi lalu saya teringat suatu dosa lainnya maka saya akan cantumkan dalam catatan dosa juga.

Kemudian keesokan harinya, sebelum memasuki ruangan pengakuan dosa, saya berdoa kepada Roh Kudus, memohon bimbingan-Nya supaya saya bisa jujur apa adanya dan melakukan pengakuan dosa dengan sebaik-baiknya. Saya juga memohon Roh Kudus supaya imam pengakuan saya diberikan terang untuk mengenal jiwa saya dan membimbing saya melalui perkataan-perkataan yang diucapkan oleh sang imam yang saya percayai sebagai perkataan Yesus sendiri. Dalam pengakuan dosa lalu saya akan mengungkapkan semua dosa saya sesuai yang tertulis dalam kertas catatan dosa saya.

Persiapkanlah diri sebaik-baiknya dalam pengakuan dosa di hadapan imam dan rasakanlah manfaat dari Sakramen Rekonsiliasi yang sangat penting bagi kehidupan umat di dunia ini.

Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:8-9)

Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy

23 Februari 2021
HIS Little Servant
Yulianti Tay