CAHAYA IMAN KATOLIK

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Rahmat Dalam Sakramen Rekonsiliasi

Rahmat Dalam Sakramen Rekonsiliasi

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. (Amsal 28:13)


PENGAKUAN DOSA ADALAH WUJUD KERENDAHAN HATI

Salah seorang kawan saya berkomentar menanggapi tulisan saya tentang Sakramen Rekonsiliasi atau yang disebut juga dengan Sakramen Tobat. Saat dia merenungkan mengapa umat Katolik harus mengaku dosa di hadapan imam, dia menemukan jawaban bahwa selain perkataan Yesus sendiri dalam Yohanes 20:23, dia juga menyadari bahwa dibutuhkan kerendahan hati untuk mengaku dosa di hadapan imam. Kerendahan hati untuk mengatasi rasa malu untuk mengungkapkan apa adanya, segala kesalahan, perbuatan, perkataan, dan pikiran yang menimbulkan dosa kepada orang lain, walaupun itu dalam wujud seorang imam.

Perenungan kawan saya ini sungguh benar. Sebetulnya, mengaku dosa di hadapan imam itu juga merupakan suatu bentuk tindakan kerendahan hati. Apakah umat mampu rendah hati untuk mengakui segala kesalahan dan dosanya kepada Allah melalui perwakilan-Nya dalam wujud imam?
Sudah tentu imam terikat oleh kaul untuk menjaga kerahasiaan setiap pengakuan dosa umatnya. Namun, tetap saja ada halangan berupa rasa malu, gengsi dan kekhawatiran akan tersebarnya aib kalau umat akukan dosanya di hadapan imam.

Allah yang umat sembah adalah Allah yang sangat rendah hati. Bentuk kerendahan hati Allah dinyatakan dalam kesediaan Yesus, Sang Putra Allah, untuk turun dari Tahta-Nya di Surga dan merendah dengan mengambil wujud dilahirkan di bumi sebagai manusia demi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, Allah sangat menghargai setiap bentuk tindakan kerendahan hati. Penghargaan ini Allah nyatakan dengan melimpahkan rahmat-Nya bagi umat yang rendah hati tersebut.

LIMPAHAN RAHMAT DALAM SAKRAMEN REKONSILIASI

Jadi, melakukan pengakuan dosa secara tulus dan jujur di hadapan imam merupakan suatu tindakan kerendahan hati yang Allah hargai dengan pelimpahan rahmat-Nya.
Ya! Ada banyak rahmat di dalam Sakramen Tobat/Rekonsiliasi.
Rahmat itu bisa berupa rahmat pengampunan, kedamaian, kesembuhan jasmani, kesembuhan rohani, karunia Roh Kudus, berkat (blessing), dan sebagainya.

Manusia Perjanjian Lama menanggung penyakit dengan memandang kepada Allah. Ia mengeluh kepada Allah mengenai penyakitnya, ia memohon penyembuhan dari-Nya, Tuhan atas hidup dan mati. Penyakit menjadi jalan menuju pertobatan, dan karena pengampunan oleh Allah, terjadilah penyembuhan. Bangsa Israel mengalami bahwa penyakit, atas cara penuh rahasia, berhubungan dengan dosa dan dengan yang jahat, dan bahwa kesetiaan kepada Allah, sesuai dengan hukum-Nya, mengembalikan hidup: "sebab Aku Tuhanlah, yang menyembuhkan engkau". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1502)

Untuk menerima Penguatan, orang harus berada dalam suasana rahmat. Karena itu, dihimbau supaya menerima Sakramen Tobat, sehingga dibersihkan sebelum menerima anugerah Roh Kudus. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1310)

Mengenai pengakuan dosa. Kita harus memetik dua macam manfaat dari pengakuan dosa.
1. Kita pergi ke pengakuan dosa untuk disembuhkan;
2. Kita pergi ke pengakuan dosa untuk dididik – seperti seorang anak kecil, jiwa kita memiliki kebutuhan lestari akan pendidikan....... (Buku Harian Santa Faustina Nomor 377)


Pertobatan batin saya dimana dengan hati hancur saya akukan dosa-dosa saya, termasuk dosa okultisme, di hadapan imam, membuat saya menerima karunia Roh Kudus. Saya juga menerima rahmat kesembuhan rohani di mana luka batin saya terhadap suami pun disembuhkan. Sehingga saya memperoleh kembali kedamaian dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam salah satu penampakannya di Medjugorje, Bunda Maria meminta supaya umat harus menerima Sakramen Rekonsiliasi minimum sebulan sekali supaya umat tetap berada dalam keadaan rahmat (in the state of grace). Mengikuti permintaan Bunda Maria ini maka saya pun berusaha untuk secara rutin setiap bulan menerima Sakramen Rekonsiliasi dengan pergi menghadap imam untuk mengakukan dosa-dosa saya. Ternyata, setiap kali saya selesai menerima Sakramen Rekonsiliasi, ada rahmat-rahmat baru yang saya terima. Rahmat yang terus membuat saya untuk semakin dekat kepada Allah, rahmat untuk lebih mengasihi Allah, dan hidup sesuai kehendak-Nya, menjadi alat-Nya. Melihat hal ini, imam pengakuan saya berkata, "Memang Sakramen Tobat mendatangkan rahmat."

Pernah saya mengalami, saat saya mendoakan seseorang dengan doa Rosario dan Koronka, mulut saya tidak bisa mengucapkan nama orang yang saya doakan. Bagaimanapun saya berusaha keras untuk menyebutkan namanya dalam doa, mulut saya tidak bisa mengucapkan nama orang tersebut hingga membuat saya terheran-heran. Selesai berdoa saya lalu membatin bertanya kepada Yesus, mengapa saya tidak bisa mengucapkan nama orang tersebut? Lalu dalam pikiran saya muncul perkataan, "Sakramen Tobat".

Saya pun mengerti, ternyata Allah menginginkan supaya orang tersebut untuk mengaku dosa di hadapan imam. Hal ini saya alami dua kali dengan dua orang yang berbeda.

Terkadang saya juga merasakan, saat saya mendoakan seseorang, walaupun saya tidak kesulitan mengucapkan namanya dalam doa, namun ada perasaan atau pikiran yang berkata bahwa orang tersebut harus menerima Sakramen Rekonsiliasi. Itulah sebabnya saya selalu menganjurkan kepada banyak umat untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi.

Pengalaman-pengalaman iman saya membuktikan betapa pentingnya dan bermanfaatnya Sakramen Rekonsiliasi/Tobat bagi pemulihan jiwa dan kehidupan umat. Perdamaian kembali dengan Allah atas pengampunan yang diberikan-Nya kepada umat melalui Sakramen Rekonsiliasi membawa keselamatan bagi jiwa umat. Juga terdapat begitu banyak rahmat yang bisa umat peroleh melalui Sakramen Rekonsiliasi.

Ibarat pipa yang harus rutin dibersihkan supaya air tetap bisa terus mengalir lancar maka jiwa umat pun harus rutin dibersihkan melalui Sakramen Rekonsiliasi supaya berkat dan rahmat Allah bisa tetap terus mengalir dalam kehidupan umat.
Living in the state of grace (Hidup dalam keadaan rahmat).

Marilah umat jangan ragu dan malas untuk pergi menghadap imam untuk mengakukan dosa-dosa umat. Berusahalah untuk secara rutin menerima Sakramen Rekonsiliasi.

Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy

10 Januari 2021
HIS Little Servant
Yulianti Tay