CAHAYA IMAN KATOLIK

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 3: Rahmat Dan Karunia Roh Kudus

Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku
Bagian 3: Rahmat Dan Karunia Roh Kudus

Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. (Kisah Para Rasul 2:38)


Dalam tulisan sebelumnya, saya mengisahkan bagaimana Roh Kudus datang turun dari atas menghampiri saya. Lalu seiring waktu, saya merasakan Roh Kudus tidak lagi datang turun dari atas menghampiri saya melainkan berdiam dalam diri saya.

Kali ini saya ingin mengisahkan bagaimana rahmat dan karunia Roh Kudus telah mengubah hidup saya. Kembali saya ingin mengingatkan bahwa pengalaman-pengalaman saya adalah pengalaman pribadi saya dengan Tuhan yang mungkin bisa saja berbeda dengan pengalaman orang yang lainnya. Jadi, pengalaman pribadi saya tidak bisa dijadikan sebagai patokan benar atau salah.

Kehadiran Roh Kudus dalam diri saya membawa begitu banyak rahmat dan karunia bagi saya. Setiap kali saya mengingat segala rahmat dan karunia yang telah dianugerahkan-Nya, tak habis rasa syukur saya lambungkan bagi-Nya.

Rahmat Kesembuhan Luka Batin

Yang paling mengesankan saya adalah rahmat kesembuhan luka batin secara total yang saya terima. Rahmat inilah yang menyelamatkan kehidupan berkeluarga saya. Kalau tanpa rahmat ini, mungkin saja saya sudah pergi meninggalkan suami saya.

Sekitar tahun 2015 ketika anak saya yang kedua baru berumur beberapa bulan, saya jatuh sakit. Kepala terasa berat dan sakit, untuk bangkit dari ranjang saja rasanya sangat sulit. Ketika saya melihat suami saya hendak berangkat kerja, saya memintanya untuk tidak berangkat kerja. Suami saya hanya berkata, “Kenapa?”

Saya mengira bahwa suami menuruti permintaan saya namun ketika saya memaksakan diri untuk bangun dari ranjang dan tidak menemukan suami saya di rumah, timbullah perasaan kecewa yang sangat besar. Kesedihan, kekecewaan dan kemarahan terhadap suami yang meninggalkan saya seorang diri yang sedang sakit berat namun harus tetap mengurus seorang bayi dan seorang anak berumur kurang dari tiga tahun. Walaupun sedang sakit saya tetap seorang diri harus memasak, menyusui sang bayi dan mengurus kedua anak saya yang masih sangat kecil itu.

Saat itu saya merasa seperti sapi perah yang tidak dihargai oleh suami. Di situlah timbul luka batin yang sangat dalam terhadap suami saya. Luka batin ini mulai menggerogoti jiwa saya.
Saya mulai menyesal mengapa saya menikah dengan suami saya.
Saya mulai melihat wajah suami saya berubah menjadi sangat jelek dan merasa heran mengapa saya mau menikah dengan pria yang sangat jelek seperti itu.
Saya menjadi sebal melihat wajah suami saya dan terkadang bisa merasa muak tanpa alasan saat melihat wajahnya.
Saya tidak suka dekat dengan suami sehingga berusaha menjauh darinya, berusaha tidak bicara kalau tidak perlu, malas berinteraksi dengan suami.
Saya menjadi mudah tersinggung dan marah dengan suami. Apa pun yang suami lakukan terlihat salah di mata saya.
Saya sering mendengar suara-suara hasutan dalam pikiran saya yang berkata bahwa suami saya tidak menghargai saya, suami saya tidak perduli dengan saya, lebih baik tinggalkan suami saya, dan sebagainya. Suara-suara hasutan ini selalu semakin membuat saya menjadi semakin kesal dan marah dengan suami saya. Sehingga saya kerap memikirkan skenario rencana untuk meninggalkan suami saya.

Hidup seatap dengan pasangan hidup yang terasa bagaikan orang asing itu rasanya sungguh menderita, sangat tidak menyenangkan. Terkadang terpikirkan oleh saya, akan berakhir seperti inikah keluarga saya?

Saya tahu bahwa kalau ingin memperbaiki kehidupan dalam keluarga saya maka saya yang harus merubah diri saya sendiri terlebih dahulu, saya harus mau mulai berbicara dengan suami, memperbaiki komunikasi dengan suami dan mengampuni suami. Namun, ego dan luka batin jauh lebih menguasai diri saya sehingga saya tidak pernah mampu untuk mengubah diri saya untuk memperbaiki kehidupan dalam keluarga saya.

Suatu hari ketika saya sedang menjemur baju sambil merasa kesal terhadap suami atas sesuatu hal, saya mendengar suara-suara hasutan yang berkata:
“Tuh kan, dia mana menghargai kamu, mana perduli sama kamu ...”
“Dia seenaknya aja mau pergi tanpa memikirkan kamu, kan kamu juga harus pergi belanja barang kebutuhan masak ...”
“Udah, ga usah perduliin dia lagi, tinggalin aja dia biar dia tahu rasa ...”

Suara-suara hasutan ini seakan menyiram minyak ke dalam api, semakin membakar emosi saya sehingga seakan-akan seperti ketel air yang meletup saat mendidih, saya tiba-tiba membanting baju yang akan saya jemur ke dalam mesin cuci. Lalu saya masuk ke kamar tidur untuk berganti baju dan mengambil tas lalu langsung pergi keluar dari rumah tanpa berkata apa pun terhadap suami saya. Bahkan saya seakan tidak perduli dengan ketiga anak saya yang masih kecil di mana putri bungsu saya pun masih berusia kurang dari dua tahun saat itu.

Saya pergi ke Jurong East Mall, berjalan keluyuran tanpa tujuan, keluar masuk toko window shopping (hanya melihat tanpa membeli), menonton film The Predator di bioskop dan makan. Saya merasa lelah namun enggan pulang ke rumah. Tebersit dalam pikiran saya apakah lebih baik saya menginap di rumah teman saja atau tinggal di hotel. Namun, akhirnya menjelang tengah malam saya dengan berat hati dan berat langkah memaksakan diri pulang ke rumah dengan membawa belanjaan kebutuhan untuk masak selama seminggu ke depan. Masa itu jasa pengiriman makanan belum terlalu marak seperti masa sekarang ini sehingga saya harus selalu belanja barang kebutuhan untuk masak seminggu sekali.

Saat itu selain belanjaan kebutuhan memasak, saya juga ada membeli sebuah setrika yang sedang diskon. Setrika itulah yang menjadi saksi kegilaan saya akibat luka batin saya terhadap suami. Setiap kali teringat dari mana setrika itu berasal maka saya akan teringat kembali hari di mana saya meninggalkan keluarga saya, bahkan tega meninggalkan anak-anak saya yang masih kecil hanya karena terbakar emosi oleh suara-suara hasutan yang menyuruh saya untuk meninggalkan suami saya. Melihat setrika ini pun membuat saya mengerti betapa berbahayanya luka batin.

Namun, setelah kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan saya, setiap teringat sejarah sang setrika maka saya pun selalu merasa sangat bersyukur dan takjub, betapa Allah itu sangat baik dan penuh belas kasih terhadap saya. Tak putus rasa syukur saya terhadap Allah atas segala kasih dan kebaikan-Nya.

Setelah saya bertobat sesuai dengan cara yang dikehendaki Tuhan, yaitu melakukan pengakuan dosa di hadapan imam dan sujud memohon ampun di hadapan Sakramen Maha Kudus atas dosa-dosa okultisme saya (percaya dan menggunakan jimat, mengijinkan mertua untuk melakukan ritual ala dukun di rumah saya, melakukan upacara bakaran persembahan kepada roh) maka Roh Kudus pun mulai hadir dalam kehidupan saya. Ternyata kehadiran Roh Kudus ini pun spontan menyembuhkan luka batin saya terhadap suami saya.

Saya tidak lagi merasakan semua perasaan kecewa, sedih, kesal dan marah terhadap suami.
Saya tidak lagi merasa wajah suami saya jelek. Walaupun memang aslinya suami saya tidak berwajah tampan namun saya merasa wajahnya memesona saya. Malah saya bersyukur dia yang menjadi pasangan hidup saya. Mungkin kalau pria lain yang menjadi suami saya, saya akan hidup tidak bahagia.
Saya juga tidak lagi mendengar suara-suara hasutan dalam pikiran saya yang selalu membuat saya semakin kesal terhadap suami. Suara-suara hasutan yang sebelumnya selalu mengganggu saya itu pun seakan-akan hilang begitu saja, tidak pernah terdengar lagi oleh saya.
Saya pun jadi bisa menerima suami saya apa adanya dengan segala kekurangannya.
Saya mulai bisa berusaha mengerti kesulitan suami dalam pekerjaannya yang tidak bisa bebas meminta cuti apalagi cuti mendadak.
Saya mulai bisa berkomunikasi lagi dengan suami, memperbaiki cara berkomunikasi bahkan menggoda dan bercanda dengan suami.
Saya mulai bisa berusaha bekerja sama dengan suami untuk mengatasi masalah yang saya hadapi dalam keluarga, terutama saat saya membutuhkannya untuk menjaga dan mengurus anak-anak saat saya sedang sakit atau apabila saya ada urusan lainnya.

Saya pun merasa heran, ke mana semua perasaan kecewa, sedih, kesal dan marah terhadap suami saya yang sebelumnya selalu mendera saya. Saya menyelidiki diri saya dan tidak menemukan lagi semua perasaan negatif tersebut terhadap suami saya. Yang tertinggal hanyalah memori mengapa dan bagaimana saya pernah merasa kecewa, sedih, kesal dan marah. Tapi memori ini pun hanyalah memori yang tidak menimbulkan perasaan-perasaan negatif lagi.

Ibarat dada saya pernah terluka bacok yang sangat parah, menimbulkan luka koyak sehingga berdarah-darah. Namun, luka ini dibalut dan diobati hingga sembuh total dan hanya menimbulkan tanda bekas luka goresan yang tidak sakit. Tanda bekas luka goresan ini hanya sebagai memori yang mengingatkan bahwa dada saya pernah terluka parah namun sudah tidak ada rasa sakit yang tersisa sedikit pun. Jadi, walaupun teringat kembali, ingatan ini tidak membuat dada saya terasa sakit. Begitulah setiap kali saya teringat saat dahulu bagaimana suami mengecewakan saya, saya tidak merasakan sakit hati dan kecewa lagi. Hanya sekedar memori.

Ketika saya menceritakan hal ini kepada pastor pembimbing saya, beliau mengatakan bahwa rahmat kesembuhan luka batin ini adalah mukjizat, sebuah rahmat khusus yang telah saya terima dari Allah. Beliau mengatakan bahwa umumnya luka batin itu sembuhnya secara bertahap, tidak langsung total spontan sembuh.

Tidak ada usaha yang saya lakukan untuk berusaha menyembuhkan luka batin ini. Saya tidak berdoa memohon kesembuhan luka batin, saya tidak mengunjungi psikolog ataupun psikiater, saya tidak berkonsultasi dengan siapa pun dan saya tidak meminta pertolongan siapa pun. Saya sepenuhnya sadar bahwa hanya begitu Roh Kudus hadir dalam diri saya sajalah yang telah menyembuhkan luka batin ini sepenuhnya. Kehadiran Roh Kudus spontan menyembuhkan luka batin saya.

Apabila saya tidak bertobat dan tetap seperti dahulu selalu didera perasaan-perasaan negatif terhadap suami dan ditambah dengan suara-suara hasutan yang selalu berusaha merusak keutuhan keluarga saya maka sudah pasti kehidupan berkeluarga saya pun bisa hancur. Entah saya akan menjadi gila atau pergi meninggalkan suami saya. Namun, ternyata pertobatan saya membuat saya tidak hanya menerima pengampunan dari Allah atas segala dosa-dosa saya bahkan Roh Kudus pun hadir dalam kehidupan saya dan berkenan berdiam di dalam diri saya dengan mencurahkan rahmat dan karunia yang berlimpah kepada saya. Itulah bukti betapa baiknya Allah, penuh belas kasih dan Maha Pengampun.

Rahmat Damai

Setelah saya menyatakan pertobatan dengan mengakukan dosa-dosa saya di hadapan seorang imam dan sujud memohon ampun di hadapan Sakramen Maha Kudus atas dosa-dosa okultisme saya, keesokan harinya saya mulai merasakan keanehan. Saya merasa tenang dan damai. Seakan tidak ada sesuatu pun yang sanggup mengganggu ketenangan jiwa saya ataupun membuat saya menjadi marah dan emosi. Padahal sebelumnya biasa saya bisa marah beberapa kali dalam sehari akibat ulah anak-anak saya. Anak-anak saya tidak berubah, tetap menyebalkan menurut saya karena kenakalan-kenakalan mereka. Namun, hari itu, apa pun yang anak saya lakukan, saya tetap bisa sabar, tenang dan tidak menjadi emosi marah terhadap mereka. Saya tidak bisa marah. Sehingga saya pun merasa seakan itu bukanlah diri saya, saya seperti berubah menjadi orang lain.

Keadaan diri saya yang tenang seperti itu, tidak bisa marah, berlangsung sekitar satu mingguan. Setelah satu minggu, diri saya kembali menjadi pribadi yang tidak sabar dan mudah marah terhadap anak. Saya menjadi heran. Saya pun bertanya-tanya, apakah Roh Kudus telah meninggalkan diri saya?

Saya kemudian memeriksa diri saya dan tetap menemukan kehadiran Roh Kudus di dalam diri saya. Saya tidak mengerti.
Apabila Roh Kudus masih tetap berdiam dalam diri saya lalu mengapa saya kembali berubah menjadi pribadi yang buruk seperti sebelumnya, tidak sabar dan mudah marah terhadap anak?
Mengapa ketenangan dan kedamaian itu hanya saya alami beberapa hari saja?
Mengapa rahmat ini hanya sementara saja?
Mengapa saya tidak diubahkan secara permanen menjadi pribadi yang sabar terhadap anak?
Begitu banyak pertanyaan timbul dalam benak saya.

Butuh waktu lama barulah akhirnya saya mengerti. Roh Kudus menghendaki saya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih sabar dan tidak mudah marah terhadap anak itu dengan melalui proses dan bukannya hanya melalui rahmat saja. Dibutuhkan kerja sama dari pihak saya untuk mau berubah dan berusaha memperbaiki diri dengan melatih diri dan mengontrol diri. Dengan bekerja sama dengan rahmat Roh Kudus, saya harus mau diproses dengan terus bertekad dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terus berlatih menyabarkan diri hingga akhirnya kesabaran bisa menjadi suatu virtue (kebajikan) dalam diri saya.

Sungguh suatu proses yang sangat tidak mudah bagi saya. Betapa sering saya jatuh bangun dalam proses ini, bahkan kerap terpikir untuk menyerah saja, tidak perlu bersusah payah berusaha untuk menjadi pribadi yang sabar terhadap anak. Hanya ingatan masa saya menjadi pribadi yang tenang dan damai saat saya sedang sepenuhnya berada dalam rahmat Roh Kudus sajalah yang membuat saya kembali menguatkan tekad untuk terus berjuang memperbaiki diri. Saya pernah merasakan menjadi pribadi yang tenang, damai, dan sabar, walaupun hanya untuk beberapa hari saja. Saya percaya, dengan pertolongan rahmat-Nya dan usaha saya, suatu saat nanti saya akan bisa berubah menjadi pribadi yang tenang, damai dan sabar terhadap anak.

Limpahan rahmat Roh Kudus

Begitu banyak rahmat dan karunia yang Roh Kudus telah curahkan kepada saya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini. Segala rahmat dan karunia ini telah menyembuhkan luka-luka batin saya, mengubah pribadi saya menjadi pribadi baru yang lebih baik walaupun tetap bukanlah pribadi yang kudus dan sempurna, memberi kekuatan dan kemampuan supaya saya lebih bisa menghadapi kehidupan di dunia yang keras ini. Namun, yang terutama, segala rahmat dan karunia ini telah menyelamatkan jiwa saya dari kegelapan sehingga saya bisa kembali kepada Allah, mengenal, berelasi dan berkomunikasi lebih baik dengan Allah dan merasakan betapa baiknya Allah yang tidak pernah berhenti mengasihi saya, manusia hina yang berdosa ini.

Karya pertama rahmat Roh Kudus adalah pertobatan yang menghasilkan pembenaran, sebagaimana Yesus telah nyatakan pada awal Injil-Nya. "Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat" (Mat 4:17). Manusia digerakkan oleh rahmat supaya mengarahkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari dosa. Dengan demikian ia menerima pengampunan dan pembenaran dari atas. Inilah unsur-unsur dari "pembenaran itu sendiri, yang bukan hanya pengampunan dosa, melainkan juga pengudusan dan pembaharuan manusia batin". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1989)

Bagi manusia yang telah dilukai oleh dosa memang tidak mudah untuk mempertahankan keseimbangan moral. Keselamatan yang dikaruniakan oleh Kristus memberi kita rahmat yang dibutuhkan supaya tabah dalam mengejar kebajikan. Tiap orang harus selalu memohon rahmat terang dan kekuatan, harus mencari bantuan dalam Sakramen-sakramen, harus bekerja sama dengan Roh Kudus dan mengikuti ajakan-Nya untuk mencintai yang baik dan bersikap waspada terhadap yang jahat. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1811)

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Galatia 5:22-23)

Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan. (Roma 15:13)

Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy

19 Februari 2022
HIS Little Servant
Yulianti Tay