CAHAYA IMAN KATOLIK

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 1: Perjumpaan Pertama

Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku
Bagian 1: Perjumpaan Pertama

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:5)


Sudah lama saya ingin menuliskan tentang Roh Kudus. Betapa Roh Kudus begitu banyak berperan membantu saya dalam perjalanan kehidupan saya setelah saya sungguh bertobat. Roh Kudus, Pribadi yang Ketiga dalam Allah Tritunggal, adalah Roh yang sangat lembut dan penuh kesabaran.

Tahun ini, saya ingin mengawali tulisan saya dengan kisah-kisah pengalaman saya bersama Roh Kudus. Oleh karena ada begitu banyak yang ingin saya kisahkan tentang Roh Kudus maka saya akan membagi tulisan saya menjadi beberapa bagian.

Semasa kuliah, sekitar tahun 1998-2000, saya sudah tidak ingat lagi tepatnya kapan, saya mengikuti sebuah acara Kebangkitan Roh Kudus di Gedung Ganesha, ITB, Bandung. Saat itu saya duduk di barisan bangku bagian atas. Para pembawa acara, penyanyi, pemimpin doa, dan sebagainya, berada di panggung yang posisinya lebih rendah dari tempat duduk saya. Saat acara doa, saya melihat begitu banyak orang yang berdiri di dekat depan panggung yang tiba-tiba jatuh tergeletak. Dengan merasa aneh dan heran, saya melongokkan badan melihat ke arah panggung di bawah dan berkata dalam hati, “Bapa, itu apa yang terjadi dengan mereka? Kalau Engkau izinkan, aku juga mau mencoba alami apa yang mereka alami, Bapa.”

Selesai saya membatin seperti itu, tiba-tiba saya merasakan seperti ada energi listrik yang mengalir masuk dari telapak kaki terus naik ke atas hingga ke kepala saya. Saat energi listrik itu mencapai kepala saya, tiba-tiba lidah saya bergerak sendiri dengan sangat cepat tanpa bisa saya kontrol atau hentikan. Lalu saya menangis tersedu-sedu hingga tubuh bergetar. Yang saya ingat, waktu itu saya menangis dengan penuh rasa penyesalan terhadap mama saya. Saya tidak ingat lagi apa masalah yang membuat saya merasa sangat menyesal telah bersalah terhadap mama saya. Saya hanya teringat perasaan bersalah yang sangat besar terhadap mama saya sehingga saya menangis dengan tersedu-sedu.

Saat saya sedang menangis dengan mata terpejam, saya merasakan ada orang-orang yang datang menghampiri saya dan memegang kedua bahu saya. Lalu saya pingsan. Ketika saya tersadar dan membuka mata, saya merasa heran karena mendapati diri saya sedang terbaring di atas lantai dekat tempat duduk saya. Saya pun lantas bangkit berdiri kembali ke tempat duduk saya. Seorang kawan saya yang duduk di sebelah saya, menatap saya dengan pandangan ketakutan. Hingga kini, saya tidak bisa melupakan pandangan ketakutan kawan saya itu yang telah menganggap saya aneh karena mengalami peristiwa tersebut.

Setelah kejadian itu, saya berusaha mengikuti kegiatan komunitas serupa. Karena saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan saya, mengapa lidah saya jadi suka bergerak sendiri dengan cepat saat doa dan pujian, maka saya berusaha mencari orang-orang yang mengalami pengalaman serupa. Saat itu saya tidak tahu kalau itu namanya adalah Bahasa Roh.

Namun, setiap kali saya mengikuti acara komunitas yang disebut karismatik, di mana ada banyak orang yang mengalami pengalaman yang saya alami, saya merasakan aura kesombongan yang sangat pekat. Banyak pemuda pemudi dalam komunitas karismatik. Mereka sibuk membandingkan kemampuan mereka dalam Bahasa Roh, merasa diri lebih baik karena bisa ber-Bahasa Roh, dan menganggap orang yang tidak bisa Bahasa Roh adalah orang yang tidak baik rohaninya.

Saat itu saya yang masih tidak tahu apa itu Bahasa Roh, siapa itu Roh Kudus, melihat kesombongan dalam komunitas karismatik akibat kemampuan ber-Bahasa Roh ini, membuat saya menganggap bahwa Bahasa Roh adalah sesuatu yang tidak baik, hanya membuat orang menjadi sombong. Saya tidak ingin menjadi sombong seperti mereka sehingga saya pun berhenti mengikuti kegiatan komunitas karismatik dan menolak karunia Bahasa Roh ini. Setiap kali saya merasakan lidah saya akan bergerak sendiri saat doa atau pujian maka dengan penuh kesadaran dan kehendak sendiri, saya melawan kuasa yang hendak menggerakkan lidah saya itu. Saya akan bersikeras menahan lidah saya untuk tidak bergerak. Saya menolak dan selalu berkata dalam hati, “Tidak, aku tidak mau!” Karena saya terus menerus melawan dan menolak maka akhirnya saya tidak bisa ber-Bahasa Roh lagi.

Setelah itu, kehidupan saya kembali normal tanpa lidah saya bergerak dengan sendirinya lagi. Saya pun tidak berusaha mencari tahu lebih jauh lagi tentang hal ini, mengapa lidah bisa bergerak sendiri dengan cepat di luar kontrol, kuasa apa yang menggerakkan lidah bergerak sendiri.
Saya tidak menyadari bahwa ini adalah salah satu karunia Roh Kudus.
Saya tidak menyadari bahwa kuasa Roh Kudus-lah yang menggerakkan lidah saya.
Dan oleh karena kebodohan dan ketidakmengertian saya, saya telah menolak Roh Kudus. Saya telah menolak karunia yang diberikan oleh Roh Kudus.

Hanya setelah sungguh bertobat barulah saya mengenal Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya dengan lebih baik. Barulah saya sadari bahwa pengalaman saya semasa kuliah itu adalah perjumpaan pertama saya dengan Roh Kudus, Pribadi yang Ketiga dalam Allah Tritunggal.

Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat". Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: "Bapa adalah yang sama seperti Putra, Putra yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putra adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat". "Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 253)

"Iman Katolik ... berarti bahwa kita menghormati Allah yang Esa dan Tritunggal dalam keesaan, dengan tidak mencampuradukkan Pribadi-Pribadi dan juga tidak memisahkan substansi-Nya: Karena Pribadi Bapa itu khas, Pribadi Putra itu khas, Pribadi Roh Kudus itu khas; tetapi Bapa, Putra, dan Roh Kudus memiliki ke-Allah-an yang Esa, kemuliaan yang sama, keagungan abadi yang sama " (Simbolum "Quicumque ": DS 75). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 266)

Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.”(Kisah Para Rasul 5:32)

Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy

19 Januari 2022
HIS Little Servant
Yulianti Tay