Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Kebenaran Iman: Allah Tritunggal Dalam Hidupku
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Roh Kudus Ubahkan Hidupku
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. (Kisah Para Rasul 2:38)
Suatu hari, saat putra kedua saya baru berumur beberapa bulan, saya jatuh sakit berat. Rasanya sulit bangun dari tempat tidur, lemas, kepala pening. Saat saya melihat suami saya sedang berganti baju hendak bersiap-siap berangkat kerja, dengan lirih saya berkata, "Bisa tidak kamu tidak pergi kerja hari ini?" Suami saya hanya menjawab, "Kenapa?" Setelah itu saya pikir dia tidak jadi berangkat kerja. Namun, ternyata kemudian saya sadari kalau dia sudah ke luar rumah untuk berangkat kerja.
Di situlah awal mula luka batin saya terhadap suami. Merasa tak bertenaga namun masih tetap harus mengurus anak sulung yang berumur kurang dari tiga tahun dan menyusui bayi yang baru berumur beberapa bulan tanpa ada yang membantu, sungguh menderita rasanya. Saya merasa seperti sapi perah yang tidak dihargai. Sakit hati merasa tidak dihargai dan dikhianati karena ditinggalkan begitu saja saat saya sangat membutuhkan pertolongannya. Luka batin ini membuat saya menjadi mudah marah dan kesal terhadap suami saya. Rasa amarah hanya selalu saya pendam dalam hati, tidak saya keluarkan dalam bentuk emosi meluap-luap.
Saya kemudian dikaruniai anak ketiga, putri bungsu kami, pada tahun 2016. Keletihan mengurus tiga anak kecil sempat membuat saya jadi depresi. Saya menyadari bahwa saya depresi oleh karena suatu kejadian yang tidak biasa yang terjadi.
Suatu hari, roh saya seperti kehilangan kontrol atas tubuh saya. Seakan-akan tubuh saya dikuasai oleh roh lainnya. Oleh karena suatu masalah sepele, tiba-tiba saya dikuasai amarah meluap, saya memukul ketiga anak saya yang saat itu berusia kurang dari 6 tahun, 4 tahun dan 2 tahun. Saya memukul mereka tanpa henti dengan sebilah rotan panjang.
Saat itu, dalam diri saya, saya melihat roh saya sedang berjongkok dengan kedua tangan memeluk kedua kaki saya di sebuah ruangan segi empat yang gelap pekat. Roh saya memohon-mohon, "Stop! Stop! Jangan pukul lagi!" Tapi tubuh saya tidak mau menuruti perintah roh saya. Tangan kanan saya yang memegang sebilah rotan panjang tetap terus memukul ketiga anak saya. Sementara di dalam pikiran saya terus menerus terdengar suara yang berkata, "Pukul! Pukul terus sampai mati!"
Setelah puas memukul, emosi amarah mereda, tiba-tiba kesadaran saya kembali pulih. Sepertinya roh saya baru menguasai tubuh saya kembali. Saat itu saya langsung merasa terkejut dengan apa yang telah saya lakukan. Walau memang saya kadang memukul anak saat sedang marah, namun saya tidak pernah memukul sampai seperti kesetanan begitu sebelumnya. Saya pun menyadari bahwa saya mengalami depresi. Merasa ngeri dengan akibat depresi sehingga lepas kontrol diri seperti itu, saya lalu langsung berdoa memohon kepada Tuhan untuk selalu menjaga pikiran dan hati saya agar saya tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat saya menyesal seumur hidup.
Kemudian saya segera memeriksa tubuh ketiga anak saya akibat pukulan-pukulan rotan sebelumnya. Melihat tidak ada luka-luka lecet, saya sangat bersyukur. Walau saya juga merasa heran dengan pukulan rotan yang tanpa henti seperti itu tapi tidak menimbulkan luka-luka berarti terhadap tubuh mereka. Saya yakini ada perlindungan Tuhan terhadap ketiga anak saya saat itu. Namun, saya tahu, walaupun tidak ada luka fisik, kejadian itu jelas menoreh luka di batin ketiga anak saya.
Kejadian tersebut terjadi hanya satu kali saja dan tidak pernah terulang lagi. Tapi selalu tertanam di batin saya sebagai sebuah pelajaran tak terlupakan.
Waktu demi waktu, saya mengalami semakin banyak kekecewaan dan kemarahan terpendam terhadap suami. Sehingga saya jadi merasa malas berbicara dengan suami yang selalu sibuk bermain dengan telepon genggamnya. Sungguh, gadget (gawai) memang salah satu perusak kehidupan berumah tangga di jaman ini.
Tidak adanya komunikasi ditambah dengan pikiran-pikiran negatif semakin membuat saya merasa sebal dan benci dengan suami. Bahkan saya sempat berpikir, "Kok mau-maunya seh aku kawin dengan orang jelek begini!" Pikiran untuk bercerai atau meninggalkan suami saya selalu muncul menyerbu. Saya bahkan kadang memikirkan kemungkinan bagaimana caranya meninggalkan suami dan hidup tanpa suami. Terkadang pula saya berpikir, akan berakhir seperti inikah kehidupan berumah tangga saya?
Sebetulnya jauh di dalam lubuk hati, saya tahu bahwa apabila menghendaki ada perubahan yang lebih baik maka haruslah dimulai dari diri saya sendiri dulu untuk berubah. Namun, ego dan kekerasan hati saya lebih menguasai, saya tidak mampu berubah, tidak mampu bangkit, tetap terpuruk dalam lumpur kemarahan dan mengasihani diri sendiri.
Pada suatu hari Minggu, karena suatu alasan, saya merasa kesal dan kecewa kepada suami. Sore hari saat saya sedang menjemur pakaian, pikiran-pikiran hasutan menyerbu seakan-akan memanas-manasi saya sehingga semakin membakar emosi saya. Ibarat ketel air yang panas meluap memuncratkan semburan air panas, tiba-tiba saya membanting baju yang hendak saya jemur. Lalu saya tinggalkan sisa-sisa baju yang hendak dijemur, saya masuk ke kamar tidur, berganti pakaian, mengambil tas dan tanpa berkata sepatah pun, tanpa menghiraukan panggilan anak-anak, saya pun keluar rumah.
Saya pergi ke Jurong East Mall, window shopping (melihat-lihat barang di etalase toko) lalu menonton film The Predator di bioskop. Selesai menonton, saya masih tidak mau pulang. Sempat terpikir untuk saya menginap di hotel saja, tidak perlu pulang ke rumah. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk berbelanja sayur mayur di supermarket dan baru kembali ke rumah saat tengah malam.
Agustus 2019, setelah bertobat dan menerima Sakramen Tobat, saya mengalami hidup baru dalam Roh Kudus. Saya sungguh merasakan kehadiran Roh Kudus dalam diri saya. Saya pun menjadi berubah. Rasa amarah, kecewa dan mengasihani diri sendiri yang sebelumnya selalu menyerang, telah hilang. Saya mau mulai mengajak bicara suami saya. Bahkan saya menjadi lebih toleran dan bisa mengerti keadaannya yang tidak mudah untuk tiba-tiba mengambil cuti mendadak dari kerja.
Saya sadari, luka batin saya terhadap suami juga sudah sembuh. Hànya ada memori mengapa luka batin itu terjadi tapi tidak ada lagi rasa sakit terluka yang tertinggal. Saya mulai belajar menerima kekurangan-kekurangan suami sebagai manusia yang tidak sempurna, sama seperti saya yang juga tidak sempurna.
Saya juga mulai suka bercanda dan menggoda suami saya bersama anak-anak. Suami saya tetap sama, selalu sibuk bermain dengan telepon genggamnya. Saya juga tidak menceritakan kepadanya mengapa saya tiba-tiba bisa berubah. Tapi saya tahu kalau dia merasakan perubahan besar dalam diri saya.
Kini kehidupan berumah tangga saya sudah baik, terselamatkan oleh pertolongan Roh Kudus yang memampukan saya untuk berubah demi kebaikan. Saya juga tidak pernah memukul anak-anak lagi. Walau terkadang masih marah menghadapi kenakalan-kenakalan mereka, terutama saat saya sedang letih, namun saya bisa menahan diri untuk tidak memukul.
Banyal hal yang sebelumnya tidak mampu saya lakukan, namun oleh karena Roh Kudus, saya dimampukan untuk melakukannya. Kalau saya sendiri yang melakukannya maka itu tidak mungkin, tidak bisa saya lakukan. Namun, bersama dengan Roh Kudus maka saya mampu dan bisa.
Hari Minggu ini adalah hari perayaan Pentakosta. Marilah umat menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Roh Kudus supaya Roh Kudus bisa berdiam dalam diri umat dan mengubahkan hidup umat ke arah yang lebih baik menuju kepada Allah.
Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan. (Roma 15:13)
tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yohanes 14:26)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
29 Mei 2020
HIS Little Servant
Yulianti Tay

