Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Kebenaran Iman: Allah Tritunggal Dalam Hidupku
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Bekerja Sama Dengan Roh Kudus
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. (Kisah Para Rasul 2:38)
KEHADIRAN ROH KUDUS SETELAH PERTOBATAN SEJATI
Rabu, 21 Agustus 2019, saya bertobat dengan sungguh-sungguh dan menerima Sakramen Tobat setelah hampir dua dekade saya tidak pernah menerima Sakramen Tobat.
Kamis, 22 Agustus 2019, hari pertama saya merasakan kehadiran Roh Kudus. Tidak hanya hadir, akan tetapi Roh Kudus sungguh menguasai diri saya, mengubah saya sehingga bagaikan pribadi yang lain, seakan-akan bukan pribadi saya yang seperti biasanya. Tidak ada rasa emosi amarah sama sekali padahal biasanya saya marah-marah kepada anak-anak dalam sehari entah berapa kali. Saya menjadi kalem padahal biasanya saya tidak sabaran.
Saya pun merasa terheran-heran dengan perubahan diri yang nyata seperti itu. Tidak mungkin berasal dari diri saya sendiri. Saya sadari, itulah kuasa Roh Kudus.
KEHIDUPAN SEBELUM PERTOBATAN
Selama beberapa hari saya berada dalam kondisi damai, sabar dan tenang seperti itu. Namun, suatu hari saya kembali merasakan marah kepada anak-anak saya. Saya kembali menjadi tidak sabar terhadap anak.
Saya pun menjadi heran, apakah Roh Kudus telah meninggalkan saya?
Apakah saya telah melakukan suatu dosa berat lagi sehingga Roh Kudus pun pergi?
Tapi saya merasakan Roh Kudus tetap hadir dalam diri saya.
Lalu mengapa saya kembali menjadi emosi?
Mengapa Roh Kudus tidak merubah saya secara permanen?
Begitu banyak pertanyaan muncul di pikiran saya.
Lama akhirnya saya baru mengerti dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Walau sudah selama 25 tahun saya dibaptis di Gereja Katolik namun saya tidak pernah sungguh hidup dalam ajaran Gereja Katolik. Saya tidak sungguh-sungguh memahami ataupun menjalankan iman Gereja Katolik.
Ke gereja merayakan Ekaristi? Ya.
Tapi saya tidak sungguh meresapi perayaan Ekaristi yang sakral. Tidak memahami betapa berharganya Sakramen Maha Kudus dan betapa besarnya arti belas kasih Yesus melalui wafat-Nya di kayu salib. Jadi, saat saya menghadiri perayaan Ekaristi saya hanya menghadirkan tubuh jasmani saja. Sekedar absen, istilahnya.
Bahkan saat imam memberikan Homili (khotbah yang berkaitan dengan isi Kitab Suci), saya tertidur. Hebatnya, mata saya bisa otomatis terbuka begitu imam selesai memberikan Homili.
Aktif pelayanan di gereja? Ya.
Sewaktu masih muda, saya aktif mengikuti kegiatan Bina Iman Anak dan Mudika. Namun, itu saya anggap hanya seperti kegiatan sosial, tidak sungguh saya jadikan sebagai sarana untuk mengenal Allah lebih dekat.
Siapakah Allah itu? Saya hanya tahu bahwa Allah itu adalah Allah Maha Kuasa.
Allah Maha Kuasa yang bagaimana? Entahlah. Saya tidak pernah berusaha untuk tahu lebih daripada itu.
Siapakah Roh Kudus? Entahlah. Saya tidak begitu perduli apakah Roh Kudus sungguh ada atau tidak.
Saya hanya sibuk menjalani dan menikmati kehidupan sehari-hari. Bahkan saat badai-badai kehidupan datang bagai hendak menghancurleburkan diri saya, saya tetap tidak berusaha untuk mengenal Allah lebih baik.
KUASA DAN PERAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN
Saat saya sungguh bertobat dan menerima karunia Roh Kudus, saya ibarat bayi yang baru lahir yang tidak tahu apa-apa. Itulah sebabnya selama beberapa hari awal setelah saya menerima karunia Roh Kudus, saya bagaikan dikontrol, dikuasai total oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus ingin mengajarkan kepada saya bahwa Dia sungguh ada dan seakan-akan hendak berkata kepada saya, "Inilah Aku. Aku sungguh hadir dan berdiam di dalam dirimu. Inilah buah-buah-Ku dan karunia-karunia-Ku."
Setelah saya sungguh menyadari dan mengakui kehadiran Roh Kudus maka Roh Kudus mengembalikan kendali diri kepada saya.
Mengapa? Karena Allah yang umat sembah itu adalah Allah yang sangat menghargai kehendak bebas manusia.
Dia tidak mau sepenuhnya menguasai, mengendalikan kehendak bebas manusia. Istilahnya, Allah tidak mau menjadikan manusia bagaikan robot yang dikendalikan total dan tidak mempunyai kehendak bebas.
Apakah itu berarti Allah tidak bisa menguasai, mengendalikan manusia? Tidak, bukan itu.
Allah yang umat sembah adalah Allah Maha Kuasa, Allah yang menciptakan manusia dan alam semesta, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Asalkan Dia berkehendak dan bersabda maka segala sesuatunya akan terjadi menurut kehendak-Nya itu. Jadi, alasan mengapa Allah tidak menguasai manusia secara total adalah Allah TIDAK MAU menguasai, bukan TIDAK BISA menguasai, karena Allah menghargai kehendak bebas manusia. Itulah sebabnya mengapa saya kembali merasakan marah kepada anak-anak saya begitu Roh Kudus melepaskan kontrol kendali-Nya atas diri saya.
Ada bagian yang Roh Kudus ubahkan dan sembuhkan. Contohnya adalah saya tidak merasakan amarah, benci ataupun luka batin lagi terhadap suami saya. Saya tidak merasa tertarik lagi dengan tingkat kehidupan yang lebih makmur dan kesenangan duniawi seperti sebelumnya. Pandangan saya terhadap kehidupan duniawi pun berubah.
Akan tetapi ada bagian yang harus saya ubah dengan cara bekerja sama dengan Roh Kudus. Saya tidak bisa ubah dengan kekuatan sendiri tetapi Roh Kudus juga tidak otomatis ubahkan tanpa saya ikut berusaha dengan penuh kesadaran. Contohnya adalah kesabaran menghadapi anak-anak supaya saya tidak marah ataupun memukul anak.
Setiap harinya saya bagaikan melalui medan perang, berperang dengan diri sendiri, melawan hasrat untuk memukul anak dan berusaha mengendalikan amarah. Sebelum sungguh bertobat memang saya kerap memukul anak saat marah.
Setelah sungguh bertobat, ada satu kali tangan saya refleks hendak memukul anak. Saat tangan kanan saya terangkat refleks hendak memukul, tiba-tiba ada kesadaran yang muncul yang menyuruh saya untuk jangan memukul. Seketika tangan saya terhenti di udara seakan ada tangan lain yang menahan tangan saya untuk tidak memukul. Saat mendengar kesadaran tersebut lalu saya menurunkan tangan saya, tidak jadi memukul.
Saya lalu diserang oleh perasaan bersalah yang sangat menyiksa batin karena saya hampir kelepasan memukul anak. Sejak itu saya berusaha untuk lebih waspada supaya tidak terbawa emosi untuk memukul anak. Berkat Roh Kudus yang terus mengingatkan, saya bisa mengendalikan diri mematahkan keinginan memukul anak.
Setiap kali saya marah terhadap anak, akan muncul pikiran yang berkata bahwa saya tidak perlu marah-marah seperti itu, seharusnya saya berkata lebih lembut terhadap anak, seharusnya saya bisa bersikap lebih sabar. Pikiran-pikiran ini saya sadari berasal dari Roh Kudus yang terus menegur, mengingatkan dan mengajarkan bagaimana harusnya saya bersikap dan bertindak.
Saya berusaha menuruti pikiran-pikiran ini. Tapi banyak kali saya terlalu lemah, gagal menekan ego, gagal menuruti perkataan Roh Kudus sehingga jatuh kembali dalam dosa-dosa yang itu-itu saja. Hingga saat ini, saya masih belum bisa sungguh sabar terhadap anak, masih sering marah-marah terhadap anak.
Kelembutan dan kesabaran Roh Kudus terhadap saya sungguh luar biasa. Tidak henti-hentinya saya selalu berdoa kepada Allah untuk jangan menyerah terhadap saya, jangan meninggalkan jiwa saya. Walau terseok-seok jatuh bangun, perlahan maju melangkah, saya tetap ingin bekerja sama dengan Roh Kudus, mendengarkan setiap teguran dan ajaran-Nya.
Saya mengerti mengapa Roh Kudus tidak mengubahkan otomatis diri saya supaya bebas dari marah terhadap anak karena Roh Kudus ingin saya untuk belajar mematahkan godaan dosa ini demi kebaikan jiwa saya sendiri.
Hari Raya Pentakosta, kedatangan Roh Kudus, baru saja berlalu.
Sudahkah umat berusaha untuk bekerja sama dengan Roh Kudus?
Sudahkah umat berusaha untuk mendengarkan teguran dan ajaran Roh Kudus supaya umat berubah menuju kehidupan yang lebih baik di Mata Allah?
Marilah umat jangan abaikan kehadiran Roh Kudus dalam diri umat.
Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yohanes 16:7-11)
tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yohanes 14:26)
Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. (Roma 8:13-14)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
6 Juni 2020
HIS Little Servant
Yulianti Tay

