CAHAYA IMAN KATOLIK

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Mengenal Allah Bapa dalam Trinitas

Mengenal Allah Bapa dalam Trinitas

Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2 Korintus 6:18)

Aku percaya, aku percaya, dan sekali lagi aku percaya akan Dikau, Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Aku juga percaya akan semua kebenaran yang diajarkan oleh Gereja kudus-Mu untuk diimani. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1558)


KARUNIA PENGENALAN TENTANG TRINITAS

Sebelum bertobat, saya memang biasa berdoa dengan ditujukan kepada Allah Bapa. Mengapa? Alasannya sederhana saja. Karena saya berpikir bahwa Yesus saja sudah begitu hebat, apalagi Bapa-Nya Yesus, pasti jauh lebih hebat lagi. Jadi lebih baik saya berdoa langsung kepada Allah Bapa yang jauh lebih hebat.
Walaupun demikian, apakah saya mengenal Allah Bapa?
Apakah saya memahami tentang Allah Tritunggal?
Tidak. Memang saya berdoa selalu ditujukan kepada Allah Bapa, menyapa-Nya dengan panggilan Bapa. Tapi hanya sekedar berdoa seperti itu saja.

Setelah bertobat dan Roh Kudus hadir dalam diri saya, barulah saya mulai mengenal Pribadi Allah Bapa. Mengenal di sini dalam arti dan dalam kesadaran akan keterbatasan dan kelemahan manusia yang tidak mampu memahami secara sempurna. Dan bukan hanya Pribadi Allah Bapa saja, tetapi juga Pribadi Yesus dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi dalam Trinitas, Allah Tritunggal.

Roh Kudus telah mengaruniakan rahmat pengetahuan kepada saya yang membuat saya mengenal ketiga Pribadi dalam Allah Tritunggal. Ditunjang oleh pengalaman-pengalaman rohani, membuat saya menjadi semakin mengenal ketiga Pribadi tersebut. Ketiga Pribadi yang masing-masing berbeda, tetapi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

PENGENALAN AKAN ALLAH BAPA

Pengalaman-pengalaman rohani saya dalam berelasi dengan Allah Bapa membuat saya seakan memahami kerinduan Allah Bapa untuk bisa dekat dengan umat manusia, ciptaan-Nya yang istimewa bagi-Nya. Allah Bapa sungguh mengasihi manusia dengan sangat istimewa, melebihi ciptaan-ciptaan-Nya yang lain.

Semenjak kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa, dalam dosa, relasi antara Tuhan dengan manusia menjadi rusak. Demi memperbaiki relasi ini supaya manusia bisa kembali dekat dengan-Nya maka Allah Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya, Yesus, untuk dilahirkan sebagai manusia di bumi, menjadi jembatan penghubung antara Allah Bapa dan manusia.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Sesudah mendengar kata-kata itu, aku tidak menangis lagi, tetapi bersyukur kepada Bapa surgawi karena telah mengutus Putra-Nya kepada kita demi karya penebusan umat manusia. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1061)

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, terlihat jelas bahwa manusia cenderung takut dengan Allah Bapa. Bahkan sepertinya Allah Bapa digambarkan sebagai sosok Allah yang mudah cemburu, mudah marah, dan suka menghukum. Akibatnya manusia Perjanjian Lama pun menjadi gentar dan segan untuk berjumpa dengan Allah Bapa. Bahkan mereka lebih memilih untuk berelasi dengan allah-allah lain yang menurut mereka tidak menakutkan.

Setelah kelahiran Yesus dan pengorbanan-Nya hingga wafat di kayu salib maka Yesus menjadi Perantara bagi umat manusia kepada Allah Bapa. Melalui Yesus, manusia bisa kembali berelasi dengan Allah Bapa. Namun, sepertinya hingga sekarang pun manusia masih tetap cenderung takut dan segan untuk berjumpa dengan Allah Bapa.

Umat Kristiani umumnya cenderung lebih mengenal Yesus dan Roh Kudus saja. Umat Kristiani kurang mengenal dan mendalami relasi dengan Allah Bapa. Seakan umat Kristiani merasa sudah cukup hanya mengenal Yesus saja. Akibatnya pengenalan akan Allah Tritunggal pun menjadi kurang lengkap.

Suatu kali saya merenungkan, mengapa manusia lebih suka berelasi dengan Yesus dan Roh Kudus dibandingkan dengan Allah Bapa? Mengapa ada keseganan bagi manusia untuk mendekati Allah Bapa? Akhirnya batin saya memahami jawaban atas permenungan saya tersebut.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman rohani saya, saya merasakan Allah Bapa mempunyai karisma yang sangat kuat. Pancaran karisma Allah Bapa, kekuatan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kemuliaan-Nya begitu kuat sehingga mampu menggetarkan setiap jiwa. Getaran jiwa ini yang membuat jiwa-jiwa pada umumnya menjadi segan dan takut berada di hadapan Allah Bapa.
Padahal Allah Bapa tidak ingin umat manusia takut terhadap-Nya.
Padahal dibalik pancaran karisma yang kuat, Allah Bapa itu sangat baik hati dan lembut.

Kalau seorang manusia sudah mengenal dan berjumpa dengan Allah Bapa maka manusia itu akan bisa terpesona oleh karisma, kebaikan, dan kelembutan Allah Bapa. Jiwa saya kerap terpesona saat merasakan Allah Bapa yang begitu kuat, begitu berkuasa, begitu mulia tapi Hati-Nya begitu baik dan lembut.

Pernah, sesudah komuni kudus, aku mendengar kata-kata ini, “Engkau adalah tempat kediaman Kami.” Pada saat itu, aku merasakan dalam jiwaku kehadiran Tritunggal Kudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Aku merasa bahwa aku adalah bait Allah. Aku merasa bahwa aku adalah anak Bapa. Aku tidak dapat menjelaskan semua ini, tetapi rohku memahaminya dengan baik. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 451)

Lebih jelas daripada kapan pun sebelumnya, aku mengenal Ketiga Pribadi Ilahi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi, keberadaan mereka, sifat mereka, dan keagungan mereka adalah satu. Jiwaku bersatu dengan ketiga Pribadi ini; tetapi aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan kata-kata; namun jiwaku memahaminya dengan baik. Barangsiapa bersatu dengan Satu dari ketiga Pribadi Ilahi, ia bersatu dengan seluruh Tritunggal Mahakudus karena Keesaan ini tidak terpisahkan. Penglihatan ini, atau lebih tepat, pemahaman ini memenuhi jiwaku dengan kebahagiaan yang tak terbayangkan sebab Allah sedemikian besar. Apa yang kulukiskan tidak dapat kulihat dengan mata indrawi, seperti pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, tetapi murni secara batin, murni secara rohani, sama sekali bebas dari indra. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 472)

Santa Faustina yang kaya dengan pengalaman mistik, kerap merasakan kehadiran Allah Tritunggal dalam dirinya. Kesatuan yang erat dan intim antara Santa Faustina dengan Yesus membuat Santa Faustina pun mampu menyadari akan keberadaan dan kehadiran, tidak hanya Yesus saja, tetapi juga Allah Bapa dan Roh Kudus. Pengenalan yang dalam akan Pribadi Yesus, membuat Santa Faustina pun mengenal Pribadi Allah Bapa dan Roh Kudus dengan mendalam.

Seperti halnya Santa Faustina, umat Kristiani pun seharusnya mau mengenal Ketiga Pribadi Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Umat Kristiani tidak seharusnya cukup hanya mengenal Tuhan Yesus saja melainkan justru pengenalan akan Tuhan Yesus harus membawa umat Kristiani kepada pengenalan akan Allah Bapa dan Roh Kudus juga.

MELALUI TUHAN YESUS, MANUSIA BEROLEH RAHMAT DIANGKAT MENJADI ANAK-ANAK ALLAH BAPA

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15)

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. (1 Yohanes 3:1)

Sesudah menyambut komuni kudus, aku memiliki pengetahuan yang sangat jelas tentang Bapa surgawi dan tentang kebapakan-Nya dalam kaitan dengan jiwa-jiwa. Hari ini, aku hidup sambil memuliakan Tritunggal yang kudus. Aku bersyukur kepada Allah bahwa lewat rahmat, Ia telah berkenan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1819)

MELALUI TUHAN YESUS, MANUSIA SAMPAI KEPADA ALLAH BAPA

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. (Efesus 3:12)

Bersama Yesus, lewat Yesus, dan dalam Yesus-lah aku bersekutu dengan-Mu, ya Bapa yang Kekal. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1819)

MELALUI YESUS, BERSAMA YESUS, DAN DI DALAM YESUS, MANUSIA MEMULIAKAN ALLAH BAPA

Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. (Yohanes 14:10)

bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. (Roma 16:27)

bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin. (Efesus 3:21)

Aku harus memasuki kedalaman hidupku dan bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu, sambil menyatukan diriku dengan Yesus. Bersama Dia, dalam Dia, dan lewat Dia, aku memuliakan Allah. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1177)

Kerinduan Allah Bapa agar umat manusia ciptaan-Nya mengenal-Nya, tidak merasa takut dengan-Nya, dan mau dekat dengan-Nya, juga menjadi kerinduan bagi saya supaya hal itu terjadi.
Kenalilah Tuhan Yesus. Lalu ikutilah Tuhan Yesus untuk berjumpa dengan Allah Bapa, memuliakan Allah Bapa. Jalinlah relasi yang dekat dengan Allah Bapa.

Kini, tak seorang pun takut menghampiri Engkau. Engkau adalah Allah yang maharahim. Engkau iba kepada orang yang malang. Engkau adalah Allah kami, dan kami adalah umat-Mu. Engkau adalah Bapa kami, dan kami adalah anak-anak-Mu karena rahmat. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1745)

Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy

1 Oktober 2022
HIS Little Servant
Yulianti Tay