Mengenal Bunda Maria, Bagian 1: Bunda Maria, Karunia Kerahiman Allah
Mengenal Bunda Maria, Bagian 2: Peranan Maria (Part 1)
Mengenal Bunda Maria, Bagian 2: Peranan Maria (Part 2)
Mengenal Bunda Maria, Bagian 3: Doa Salam Maria
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 1: Perjumpaan Pertama
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 2: Selamat Datang, Roh Kudus
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 3: Rahmat Dan Karunia Roh Kudus
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 4: Guruku, Pembimbingku
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku
Bagian 4: Guruku, Pembimbingku
tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yohanes 14:26)
Sebelum Paskah-Nya, Yesus menjanjikan seorang "Penghibur [paraklet] yang lain": Roh Kudus. Ia sudah bekerja waktu penciptaan dan telah "bersabda melalui para nabi" (pengakuan iman Nisea-Konstantinopel). Ia akan ada bersama murid-murid-Nya dan dalam mereka, mengajarkan mereka dan "membimbing mereka supaya mengenal seluruh kebenaran" (Yoh 16:13). Dengan demikian Roh Kudus diwahyukan bersama Yesus dan Bapa sebagai satu Pribadi ilahi yang lain. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 243)
Pada bagian-bagian sebelumnya, saya sudah mengisahkan bagaimana saya pertama kali berjumpa dengan Roh Kudus, dari tidak mengenali Roh Kudus hingga akhirnya mampu mengenali keberadaan dan kehadiran-Nya. Dan ternyata kehadiran Roh Kudus dalam diri saya juga memberikan banyak rahmat dan karunia yang telah menyelamatkan kehidupan berkeluarga saya, memulihkan jiwa saya yang terluka, dan mengubah kehidupan saya seturut kehendak Allah.
Kali ini saya hendak mengisahkan bagaimana Roh Kudus telah menjadi Guru dan Pembimbing Ilahi saya. Bagaimana Roh Kudus telah mengajarkan segala sesuatunya kepada saya seturut kehendak dan cara-Nya tersendiri.
Sekali lagi saya ingin mengingatkan bahwa ini adalah pengalaman-pengalaman pribadi saya dengan Allah yang mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lainnya.
ANUGERAH MEMPEROLEH IMAM SEBAGAI PEMBIMBING ROHANI
Setelah sungguh bertobat dan Roh Kudus hadir dalam diri saya, banyak hal aneh yang terjadi dalam diri saya yang tidak saya mengerti. Saya pun berpikir apakah saya telah berhalusinasi atau sudah tidak waras. Kekhawatiran bahwa saya sudah tidak waras akhirnya membuat saya berusaha untuk bertanya kepada sang imam yang telah memberikan Sakramen Tobat kepada saya.
Awalnya saya merasa ragu, apakah sang imam akan percaya dengan cerita-cerita saya ataukah saya akan dianggap hanya mengarang cerita saja. Namun, karena hati saya terus berkata bahwa saya harus bercerita kepada sang imam maka akhirnya saya pun memberanikan diri untuk menceritakan apa saja yang telah saya alami semenjak saya telah mengakukan dosa-dosa saya di hadapannya. Bersyukur bahwa sang imam mau memercayai saya dan tidak menganggap saya hanya mengarang cerita saja. Akhirnya saya menjadi yakin bahwa saya masih waras. Lalu saya pun meminta beliau untuk menjadi pembimbing saya supaya di saat saya ragu, tidak yakin dengan pengalaman iman saya maka saya bisa bertanya kepada beliau untuk memberi petunjuk dan membimbing saya.
Suatu kali, karena saya merasa penasaran mengapa sang imam mau memercayai cerita-cerita saya, saya pun memberanikan diri bertanya kepada beliau. Sang imam lalu menjawab bahwa beliau dan Gereja tidak boleh membatasi cara Allah berkarya sedangkan Allah berkarya dengan jutaan cara. Beliau juga mengatakan bahwa yang menjadi patokan kebenaran bagi umat Katolik adalah Kitab Suci, Tradisi Gereja dan Magisterium (ajaran para Bapa Gereja, misalnya Paus). Bereaksi dari apa yang saya alami, beliau merasa senang bahwa Kerahiman Ilahi disebarkan. Itulah sebabnya beliau memercayai cerita saya.
Saya sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada beliau. Oleh karena beliaulah saya jadi mengetahui bagaimana saya seharusnya merespon dan bekerja sama dengan Roh Kudus. Beliau pula yang telah memberikan buku KGK (Katekismus Gereja Katolik) kepada saya. Secara umum, KGK merupakan ringkasan keyakinan umat Katolik dalam bentuk buku. Sesuatu yang tidak pernah saya ketahui sama sekali sebelumnya namun ternyata harus saya gunakan dalam tulisan-tulisan saya. Roh Kuduslah yang mendorong saya untuk mengutip bagian dari KGK ke dalam tulisan-tulisan saya. Saya pun sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan seorang pembimbing yang bijaksana kepada saya sehingga saya tidak menjadi salah jalan menuju Allah.
Awal-awal kehadiran Roh Kudus dalam diri saya, Roh Kudus menguasai tubuh saya sepenuhnya. Sehingga mulut saya bisa tiba-tiba bergerak sendiri, tangan saya membuat gerakan dengan sendirinya, tubuh saya bisa bergerak berjalan dengan sendirinya. Namun, itu bukan berarti bahwa saya tidak sadar dengan apa yang terjadi dengan tubuh saya, dengan apa yang saya lakukan secara jasmani. Saya tetap sadar sepenuhnya dengan semua gerakan tubuh saya saat Roh Kudus sedang menguasai tubuh saya.
Pastor pembimbing saya mengatakan bahwa saya tidak boleh menolak Roh Kudus. Bahwa Roh Kudus tidak bisa dihambat oleh apa pun kecuali oleh kekerasan hati yang menolak. Perkataan beliau ini selalu saya ingat dengan baik.
PENGUASAAN DAN PENGAJARAN ROH KUDUS
Dalam diri saya ini seakan ada dua roh, yaitu Roh Kudus dan roh saya sendiri. Ketika saya mulai merasakan bahwa Roh Kudus hendak menguasai diri saya maka roh saya pun segera menepi, memberikan keleluasaan bagi Roh Kudus untuk berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya terhadap tubuh saya. Saya tidak ingin menolak Roh Kudus.
Ketika Roh Kudus menggerakkan tubuh saya, entah mulut atau tangan ataupun bagian tubuh lainnya, maka roh saya akan memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi dengan diri saya. Saya sepenuhnya sadar dan mengetahui apa yang saya lakukan walaupun saya tidak mengerti akan makna apa yang saya lakukan. Bagaikan seorang murid yang memperhatikan apa yang diajarkan oleh gurunya melalui contoh tindakan maka seperti itulah saya memperhatikan apa yang Roh Kudus lakukan terhadap diri saya saat Roh Kudus sedang menguasai diri saya.
Apabila ada hal yang tidak saya mengerti, mengapa saya melakukan seperti ini dan itu, maka saya merenungkannya dalam hati dan bertanya kepada Roh Kudus, mengapa demikian. Terkadang saya mendapatkan jawabannya seketika dalam bentuk pemahaman batin. Terkadang saya mendapatkan jawabannya dalam penantian waktu yang cukup lama. Namun, ternyata justru jawaban yang saya terima dalam waktu yang lama ini lebih bisa membuat saya menjadi lebih memahami makna jawabannya dibandingkan apabila saya menerima jawabannya seketika itu juga saat saya sedang menanyakannya kepada Roh Kudus. Memang waktu Tuhan adalah selalu yang terbaik, entah itu waktu Tuhan dalam menjawab doa ataupun pertanyaan umat.
Ketika saya sedang berada di luar rumah, Roh Kudus menggerakkan mulut saya untuk mengucapkan doa dan menggerakkan mata saya untuk melihat orang di jalanan sebanyak-banyaknya yang bisa saya lihat untuk saya doakan. Saat mulut saya bergerak dengan sendirinya mengucapkan, “milalahi... milalahi... milalahi” setiap melihat orang di jalanan maka dalam batin saya muncul kata “kasihanilah... kasihanilah... kasihanilah...”
Ternyata dalam satu kata asing milalahi itu yang artinya adalah kasihanilah, terkandung makna doa yang mendalam. Setiap orang pasti mempunyai permasalahannya masing-masing, penderitaan tersendiri yang dialami. Namun, apa pun itu permasalahan dan penderitaan yang dialami, hanya satu yang dibutuhkan oleh setiap orang, yaitu belas kasihan Allah. Dalam belas kasihan Allah terkandung pengampunan, perlindungan dan berkat. Roh Kudus telah mengajarkan saya bahwa dalam mendoakan orang tidak perlu banyak kata, cukup memohonkan belas kasihan Allah saja kepada orang yang saya doakan tersebut.
Pernah suatu hari saya sekeluarga sedang berada di sebuah shopping mall. Suami saya sedang berjalan-jalan melihat pameran mooncake (kue bulan). Saya berjalan mengikuti di belakang suami saya namun saya tidak tertarik dengan kue-kue bulan yang dipromosikan. Saya lebih tertarik untuk berusaha melihat setiap orang yang ada di dalam mall tersebut untuk saya doakan. Saya seakan ingin merengkuh seluruh orang yang ada, tidak ingin meluputkan walau satu orang pun. Sehingga saya berjalan sambil memutar badan, berusaha melihat orang sebanyak-banyaknya, sementara mulut saya terus berkomat kamit dengan cepat mengucapkan doa. Sementara mulut saya mengucapkan doa dengan kata-kata yang tidak sepenuhnya saya mengerti kata per kata, hati saya mengatakan, “Yesus, kasihanilah dia... Yesus, berkatilah orang itu.... Yesus, kasihanilah mereka...”
Suami saya yang melihat mulut saya bergerak-gerak, mengira bahwa saya sedang mencicipi kue bulan yang ditawarkan oleh para promotor kue bulan. Suami saya menanyakan saya sedang makan kue bulan yang mana. Saya menjawabnya bahwa saya tidak sedang makan apa-apa. Namun, suami saya tidak percaya sehingga saya membuka mulut saya untuk menunjukkan bahwa saya tidak sedang makan apa-apa. Saya sempat merasa malu terhadap suami saya karena seakan saya tepergok telah makan kue bulan seorang diri tanpa berbagi dengannya. Tapi mana mungkin saya mengatakan kepadanya bahwa Roh Kudus sedang menggerakkan mulut saya untuk mendoakan orang-orang yang ada di dalam mall. Suatu peristiwa yang menggelikan buat saya sehingga selalu saya ingat sebagai kenangan akan Sang Guru yang sedang mengajar saya saat itu.
Begitulah bagaimana Roh Kudus mengajari saya untuk hal-hal yang dikehendaki-Nya untuk saya ketahui ataupun lakukan. Untuk beberapa waktu lamanya Roh Kudus mengajar saya dengan cara menguasai diri saya tanpa kehendak saya pribadi. Saya tentu saja bisa menolak Roh Kudus dengan tidak membiarkan Roh Kudus untuk menguasai diri saya kalau itu tidak sesuai dengan kehendak saya pribadi. Karena walaupun Roh Kudus sedang menguasai diri saya, roh saya masih tetap bebas bergerak dan sadar sepenuhnya akan segala yang terjadi, apa yang saya katakan, pikirkan maupun perbuat. Namun, mengikuti pesan pastor pembimbing saya maka saya tidak menolak Roh Kudus saat Roh Kudus hendak menguasai diri saya. Pastor pembimbing saya mengajarkan, apabila ada sesuatu hal yang tidak berkenan saat Roh Kudus menguasai diri saya, mungkin karena lingkungan yang tidak nyaman, maka saya harus memohon kepada Roh Kudus untuk hanya menguasai diri saya ketika lingkungan saya memungkinkan untuk hal itu terjadi.
KEHENDAK PRIBADI UNTUK BEKERJA SAMA DENGAN ROH KUDUS
Setelah beberapa waktu lamanya Roh Kudus mengajar saya dengan cara menguasai diri saya tanpa kehendak saya pribadi kemudian Roh Kudus mengembalikan kendali atas diri saya kepada saya. Setelah itu mulut saya tidak selalu mengucapkan doa dengan sendirinya setiap saat. Hanya apabila saya pribadi menghendaki untuk berdoa maka barulah Roh Kudus akan membantu saya berdoa. Memang saya memahami bahwa diperlukan kerja sama dari pihak saya untuk bekerja sama dengan Roh Kudus. Bagian Allah adalah mengaruniakan rahmat-Nya kepada umat dan bagian umat adalah bekerja sama dengan rahmat-Nya itu supaya rahmat itu pun bisa berguna tidak hanya bagi sang umat sendiri namun juga untuk orang lain, sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.
Pembenaran mendasari satu kerja sama antara rahmat Allah dan kebebasan manusia. Ia terungkap dalam kenyataan bahwa manusia dengan percaya menerima Sabda Allah, yang mengajaknya untuk bertobat dan bahwa ia bekerja sama dalam kasih dengan dorongan Roh Kudus, yang mendahului persetujuan kita dan menopangnya. "Kalau Allah menjamah hati manusia melalui terang Roh Kudus, maka manusia di satu pihak bukan tidak aktif sama sekali, karena ia menerima ilham yang dapat ia tolak juga; di lain pihak ia tidak dapat mengangkat diri dengan kehendak bebasnya tanpa rahmat Allah ke dalam keadilan di hadapan Allah" (Konsili Trente: DS 1525). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1993)
Ada kalanya saya merindukan saat-saat dimana Roh Kudus sedang sepenuhnya menguasai diri saya sehingga saya tidak perlu bersusah payah untuk berdoa. Seperti saat saya sedang berada di luar rumah dan bisa tanpa henti mendoakan setiap orang yang saya lihat. Juga pernah suatu hari, semenjak pagi hingga menjelang malam, mulut saya tidak henti-hentinya mengucapkan doa. Apa pun yang sedang saya lakukan saat itu, aktivitas sehari-hari saya, seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, dan lain-lain, tetap saja mulut saya terus berkomat-kamit mengucapkan doa tanpa henti. Hingga akhirnya mulut saya berhenti berdoa hanya karena rahang mulut saya mengalami kram akibat hampir seharian terus berkomat-kamit. Saya merasakan sakit kejang otot pada bagian rahang mulut saya sehingga sulit untuk menggerakkan mulut.
Namun, kini karena berdasarkan kehendak saya sendiri untuk mendoakan maka saya mengalami kesulitan untuk bisa berdoa tanpa henti. Sulit sekali untuk fokus berdoa saat sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Saya juga kerap lupa mendoakan orang-orang yang saya lihat saat sedang berada di luar rumah. Atau saat saya sedang mendoakan namun tiba-tiba pikiran saya melayang ke masalah lain atau ada kesibukan baru maka doa saya pun terputus dan saya lupa untuk melanjutkan doa. Saya ingin terus berdoa tanpa henti walaupun saya sibuk dengan aktivitas saya sehari-hari. Namun, ternyata saya punya banyak kelemahan dan keterbatasan yang tidak memungkinkan saya untuk berdoa tanpa henti di sepanjang hari dalam menjalankan aktivitas saya. Kenyataan ini membuat saya sadar sepenuhnya, betapa pentingnya Roh Kudus bagi saya.
Oh, kalau saja jiwa-jiwa mau mendengarkan, sekurang-kurangnya sedikit, suara hati nurani dan bisikan – yakni, bisikan-bisikan – Roh Kudus! Aku katakan “sekurang-kurangnya sedikit,” sebab sekali kita membuka diri terhadap pengaruh Roh Kudus, Ia sendiri akan menggenapi apa yang kurang dalam diri kita. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 359)
ROH KUDUS: GURUKU, PEMBIMBINGKU
Roh Kudus pun telah banyak membimbing saya untuk bagaimana saya harus berkata, bersikap dan bertindak. Roh Kudus menegur, menasihati, membimbing dan mengarahkan saya. Roh Kudus adalah Roh yang sangat lembut. Sehingga semua perkataan Roh Kudus saat menegur dan menasihati saya pun sangat lembut. Karena suara Roh Kudus yang sangat halus lembut maka saya harus menajamkan telinga untuk bisa mendengarkan suara-Nya.
Saya mendengar suara Roh Kudus yang berkata dalam diri saya:
“Kamu seharusnya bisa lebih bersabar...”
“Kamu tidak seharusnya marah seperti itu...”
“Jangan menghakimi. Kamu tidak tahu apa yang dia alami...”
“Kamu sebaiknya segera minta maaf kepada anakmu...”
“Jangan cepat menuduh. Selidiki terlebih dahulu permasalahannya apa yang terjadi sebenarnya...”
Roh Kudus juga sangat sabar. Walaupun saya selalu jatuh bangun berusaha memperbaiki diri, terutama dalam hal mengendalikan diri untuk lebih sabar terhadap anak, namun Roh Kudus tidak pernah bosan untuk terus menegur dan mengingatkan saya. Betapa saya sangat memuja dan menghormati Sang Guru dan Pembimbing Ilahi saya ini. Tanpa Roh Kudus, saya pasti akan tersesat dan mengalami lebih banyak kesukaran dalam kehidupan di dunia ini. Namun, bersama dengan Roh Kudus, saya merasakan betapa saya lebih mudah dalam menerima segala hal yang terjadi dan menghadapi kehidupan yang keras di dunia ini.
Semua orang beriman turut mengambil bagian dalam mengerti dan meneruskan kebenaran yang diwahyukan. Mereka telah menerima urapan Roh Kudus, yang mengajar mereka dan yang membimbing mereka untuk mengenal seluruh kebenaran. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 91)
Oleh karena itu, orang yang percaya kepada Kristus "telah menyalibkan daging dengan segala hawa-nafsu dan keinginannya" (Gal 5:24); mereka membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus dan mengikuti maksudnya. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 2543)
"Tidak ada seorang pun dapat berkata: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus" (1 Kor 12:3). Gereja mengundang kita untuk berseru kepada Roh Kudus, sebagai guru doa Kristen dalam batin kita. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 2681)
Ya Yesusku, betapa sangat mudahnya menjadi kudus; yang diperlukan hanyalah sebutir kemauan baik. Kalau Yesus melihat butir kemauan baik ini dalam jiwa, Ia bergegas memberikan diri-Nya kepada jiwa itu, dan tidak ada suatu pun yang dapat menghentikan-Nya, entah kesalahan entah dosa – sama sekali tidak ada apa pun. Yesus siap segera menolong jiwa itu, dan kalau jiwa itu setia terhadap rahmat dari Allah ini, ia dapat segera mencapai kesucian tertinggi yang mungkin dicapai oleh ciptaan di bumi ini. Allah itu amat murah hati dan tidak menolak menganugerahkan rahmat-Nya kepada siapa pun. Sungguh, Ia memberi lebih banyak daripada yang kita minta dari Dia. Kesetiaan kepada bisikan-bisikan Roh Kudus – itulah jalan paling pendek untuk menuju suci. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 291)
Juni 1936. Percakapan dengan Pastor Andrasz. “Ketahuilah bahwa ini adalah hal-hal yang berat dan sulit. Pembimbing rohanimu yang utama adalah Roh Kudus. Kami hanya dapat memberikan pengarahan dalam kaitan dengan ilham-ilham itu, tetapi pembimbing rohanimu yang sesungguhnya adalah Roh Kudus. (Buku Harian St Faustina Nomor 658)
Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata! (Mazmur 143:10)
Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. (Yudas 1:20)
Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus. (Markus 13:11)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
6 Maret 2022
HIS Little Servant
Yulianti Tay

