Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Kebenaran Iman: Allah Tritunggal Dalam Hidupku
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Indulgensi Saat Pesta Kerahiman Ilahi
Rahmat Dalam Sakramen Rekonsiliasi
Kebiasaan Menerima Sakramen Rekonsiliasi
Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5)
Suatu kali saya pernah membaca sebuah artikel di mana sang penulis bercerita bahwa pada jaman dahulu umat Katolik selalu harus antri panjang untuk melakukan pengakuan dosa, menerima Sakramen Rekonsiliasi, sebelum menghadiri Misa Ekaristi. Namun, kini tradisi untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi sebelum menghadiri misa Ekaristi sudah terkikis. Umat Katolik umumnya tidak melakukan kebiasaan ini lagi. Umat Katolik secara umum hanya merasa perlu untuk melakukan pengakuan dosa pada saat Na-Pas saja, yaitu saat Natal dan Paskah.
Gereja Katolik mensyaratkan umatnya untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi minimal sekali dalam setahun. Namun, Gereja Katolik menganjurkan untuk lebih baik menerima Sakramen Rekonsiliasi secara rutin, tidak hanya setahun sekali. Terlebih apabila umat secara sadar telah melakukan suatu dosa besar maka sebaiknya umat segera melakukan rekonsiliasi dengan Allah melalui Sakramen Rekonsiliasi atau yang disebut juga dengan Sakramen Tobat. Hal ini untuk menjaga supaya umat tetap berada dalam keadaan rahmat.
Siapa yang hendak menerima Kristus dalam komuni Ekaristi, harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1415)
KEBIASAAN MENERIMA SAKRAMEN REKONSILIASI SECARA RUTIN
Setelah saya kembali melakukan pengakuan dosa pertama kali setelah hampir dua dekade saya tidak pernah mengaku dosa di hadapan imam, entah mengapa, saya merasa bahwa saya harus mengaku dosa secara rutin setiap bulan. Saya tidak mengerti mengapa harus begitu namun saya merasakan dorongan kuat yang selalu menyuruh saya untuk pergi menerima Sakramen Rekonsiliasi setiap bulan.
Hingga suatu hari saya membaca artikel tentang penampakan-penampakan Bunda Maria di Medjugorje, barulah saya mengerti mengapa demikian. Dalam salah satu penampakannya di Medjugorje, Bunda Maria meminta umat untuk secara rutin menerima Sakramen Rekonsiliasi minimum sebulan sekali supaya umat tetap berada dalam keadaan rahmat, living in a state of grace.
Dari Buku Harian Santa Faustina, saya ketahui bahwa para biarawan biarawati mempunyai kebiasaan untuk mengaku dosa seminggu sekali. Mereka mempunyai imam pengakuan yang mereka sebut dengan Bapak Pengakuan. Tidak sedikit biarawan biarawati yang dinyatakan sebagai Santo Santa (orang kudus dalam Gereja Katolik).
Scott W. Hahn, seorang teolog Katolik terkemuka, juga mempunyai kebiasaan melakukan pengakuan dosa di hadapan imam seminggu sekali.
Carlo Acutis, seorang remaja Katolik yang meninggal pada usia 15 tahun akibat penyakit leukemia, telah dibeatifikasi pada 10 Oktober 2020 (1) yang lalu (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, beatifikasi adalah tahap pertama proses untuk menjadikan seseorang yang telah mati menjadi orang suci dalam Gereja Katolik). Carlo Acutis dikenal sebagai remaja yang ceria, ramah, baik hati, dan mempunyai devosi yang sangat dalam terhadap Ekaristi. Ternyata Carlo Acutis juga mempunyai kebiasaan melakukan pengakuan dosa di hadapan imam seminggu sekali.
Padre Pio, seorang Santo yang sangat terkenal, semasa hidupnya mengundang semua umat untuk mengaku dosa setidaknya seminggu sekali. Padre Pio berkata, "Bahkan apabila sebuah ruangan ditutup, tetap perlu dibersihkan setelah seminggu."
Apakah perlu melakukan pengakuan dosa di hadapan imam seminggu sekali?
Apakah ada banyak dosa, baik dosa berat maupun dosa ringan, yang dilakukan dalam kurun waktu seminggu yang perlu diakukan?
Saya pribadi, hanya bisa melakukan pengakuan dosa di hadapan imam sebulan sekali, tidak seminggu sekali. Dibutuhkan waktu perjalanan sedikitnya selama satu setengah jam bagi saya untuk mencapai Gereja di mana imam pengakuan saya berada. Sudah pasti ada godaan kemalasan menyerang supaya saya tidak pergi mengaku dosa. Banyak kali saya berperang melawan kemalasan itu. Bahkan pernah satu kali dimana saya seakan berjalan menyeret kaki demi memaksa diri supaya tetap pergi mengaku dosa.
PENGALAMAN SERANGAN DAN GODAAN UNTUK TIDAK MENGAKU DOSA
Kala itu, sejak dari rumah, ada suara yang terus mengatakan bahwa saya tidak perlu pergi mengaku dosa. Suara itu terus membujuk saya untuk tidak perlu pergi mengaku dosa dengan alasan jarak yang jauh, perjalanan yang lama, dan cuaca yang panas. Timbul rasa kemalasan yang sangat besar saat itu untuk pergi mengaku dosa. Namun, saya berusaha untuk melawan rasa kemalasan itu. Sepanjang perjalanan, suara itu tetap terus membujuk supaya saya membatalkan untuk pergi mengaku dosa.
Ketika berjalan di jembatan penyeberangan dekat Gereja, saya merasakan seperti ada sepasang tangan yang menahan kaki kiri saya supaya saya tidak bisa melangkah maju. Saya lalu mendengar suara lain yang menyemangati saya untuk tetap terus berusaha melangkah maju ke Gereja untuk pengakuan dosa. Saya pun terpaksa mengerahkan tenaga untuk berjalan. Kaki kanan saya setapak demi setapak perlahan melangkah sambil menarik kaki kiri saya yang tidak bisa bergerak. Saya berjalan dengan kaku seakan seperti robot akibat kaki kiri yang tidak bisa bergerak. Sesampainya di Gereja di depan ruangan sang imam pengakuan, saya merasakan tangan yang menahan kaki kiri saya itu pun melepaskan pegangannya sehingga kaki kiri saya kembali bebas bergerak. Lalu saya ungkapkan godaan kemalasan ini dalam pengakuan dosa juga.
Lama setelah kejadian itu akhirnya saya menyadari bahwa suara yang terus menyemangati saya untuk tetap berusaha melangkah ke Gereja untuk pengakuan dosa itu adalah suara Malaikat Pelindung saya. Ketika si jahat (iblis dan para malaikat kegelapannya) berusaha membujuk saya untuk tidak perlu pergi mengaku dosa, menimbulkan rasa malas yang kuat dalam diri saya agar tidak pergi mengaku dosa, bahkan sampai menahan kaki kiri saya untuk tidak bisa melangkah, Malaikat Pelindung saya pun tidak tinggal diam. Malaikat Pelindung saya terus menyemangati saya agar saya tidak menyerah dan tetap terus melangkah menuju kamar pengakuan dosa. Hingga akhirnya si jahat berhasil saya kalahkan dengan tekad yang kuat untuk melakukan pengakuan dosa diiringi dukungan semangat dari Malaikat Pelindung saya. Itu sebabnya begitu dengan bersusah payah akhirnya saya tiba di depan kamar pengakuan dosa, si jahat pun melepaskan cengkeraman tangannya terhadap kaki kiri saya sehingga kaki kiri saya bebas melangkah kembali.
PENGALAMAN KESESAKAN JIWA AKIBAT LAMA TIDAK MENGAKU DOSA
Di tahun 2020 saat Singapura mulai mengalami pandemi hingga masuk dalam situasi Circuit Breaker Phase 1 dimana warga dibatasi keluar rumah demi mengontrol penyebaran virus covid, selama beberapa bulan saya tidak bisa pergi mengaku dosa. Ternyata selama 4-5 bulan saya tidak pergi mengaku dosa di hadapan imam, saya merasakan kesesakan jiwa. Jiwa saya terasa begitu berat dan sesak seakan tubuh saya sulit bernapas. Begitu Gereja mulai dibuka lagi, saya pun segera melakukan pengakuan dosa kembali. Selesai menerima Sakramen Rekonsiliasi saya merasakan kelegaan dan jiwa saya pun terasa ringan, tidak terasa sesak lagi.
Pengalaman ini semakin meyakinkan saya betapa Sakramen Rekonsiliasi itu sungguh sangat penting. Ada buah-buah rohani yang bisa diperoleh dari Sakramen Rekonsiliasi.
Buah-buah rohani dari Sakramen Pengakuan ialah:
- perdamaian dengan Allah, yang olehnya pendosa mendapat kembali rahmat;
- perdamaian dengan Gereja;
- pembebasan dari siksa abadi, yang orang terima karena dosa berat;
- pembebasan paling sedikit sebagian dari siksa sementara, yang diakibatkan oleh dosa;
- perdamaian dan ketenangan hati nurani dan hiburan rohani;
- pertumbuhan kekuatan rohani untuk perjuangan Kristen.
(Katekismus Gereja Katolik Nomor 1496)
RUTIN PENGAKUAN DOSA UNTUK MENJAGA HIDUP DALAM KEADAAN RAHMAT
Jadi, apakah pengakuan dosa di hadapan imam harus dilakukan seminggu sekali, sebulan sekali atau cukup setahun sekali?
Semua kembali kepada kehendak masing-masing. Ibarat kebiasaan untuk membersihkan kamar, apabila menginginkan kamar yang bersih nyaman maka harus dibersihkan sesering mungkin. Sehingga biarpun hanya ada sebutir debu tak berarti, kamar tetap selalu dibersihkan secara rutin.
Demikian pula dengan jiwa. Apabila menginginkan jiwa yang kudus dan selalu dalam keadaan rahmat maka sebaiknya sesering mungkin melakukan pengakuan dosa di hadapan imam. Walaupun hanya ada dosa-dosa ringan yang biasa dan dianggap tidak bermasalah, tetap diakukan dosanya sesering mungkin.
Kini saya mengerti mengapa orang-orang kudus mempunyai kebiasaan mengaku dosa di hadapan imam seminggu sekali. Karena jiwa mereka yang murni, jiwa yang kudus, merasa tidak tahan dan sesak akibat dosa, walaupun hanya dosa ringan. Sehingga melalui Sakramen Rekonsiliasi, mereka merasakan kelegaan dan menerima rahmat yang tetap terus mengalir dari Allah, rahmat yang membuat jiwa mereka menjadi kudus.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
31 Januari 2021
HIS Little Servant
Yulianti Tay
Catatan:
(1) Ketika tulisan ini ditulis pada tanggal 31 Januari 2021, Carlos Acutis masih berstatus sebagai Beato. Carlo Acutis kemudian dikanonisasi menjadi Santo oleh Paus Leo XIV pada tanggal 9 September 2025.

