Mengenal Bunda Maria, Bagian 1: Bunda Maria, Karunia Kerahiman Allah
Mengenal Bunda Maria, Bagian 2: Peranan Maria (Part 1)
Mengenal Bunda Maria, Bagian 2: Peranan Maria (Part 2)
Mengenal Bunda Maria, Bagian 3: Doa Salam Maria
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 1: Perjumpaan Pertama
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku, Bagian 2: Selamat Datang, Roh Kudus
Roh Kudus: Guruku, Pembimbingku
Bagian 2: Selamat Datang, Roh Kudus
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. (Yohanes 14:16-17)
Pada bagian pertama, saya mengisahkan pengalaman saya tentang perjumpaan dengan Roh Kudus untuk yang pertama kalinya. Namun, karena kebodohan dan ketidakmengertian saya yang tidak mengenali Roh Kudus sehingga saya telah menolak kuasa dan karunia yang Roh Kudus berikan kepada saya.
Kali ini, saya ingin mengisahkan pengalaman-pengalaman saya bersama Roh Kudus semenjak saya memutuskan untuk sungguh bertobat, kembali sepenuhnya kepada Tuhan dan Gereja Katolik. Namun, perlu saya tekankan bahwa kisah pengalaman-pengalaman ini adalah pengalaman pribadi saya dengan Tuhan yang mungkin bisa saja berbeda dengan pengalaman orang lainnya.
Tuhan berelasi dengan manusia itu adalah Pribadi terhadap pribadi.
Karena masing-masing pribadi manusia adalah berbeda satu dengan yang lainnya maka Tuhan berelasi dengan manusia pun disesuaikan dengan pribadi manusia tersebut. Tuhan mempunyai jutaan cara untuk berelasi dengan umat-Nya. Jadi, pengalaman pribadi saya tidak bisa dijadikan sebagai patokan baku, benar atau salah. Tujuan saya membagikan kisah pengalaman saya adalah supaya umat bisa semakin mengenal Allah, bagaimana Allah bekerja dan berkarya dalam setiap pribadi manusia.
Walaupun awalnya saya sempat ragu, apakah saya harus menuliskan pengalaman-pengalaman pribadi ini secara terbuka karena saya sangat khawatir bahwa dengan berbagi kisah ini seakan menjadi ajang pamer yang bisa menimbulkan kesombongan rohani bagi jiwa saya. Saya sangat takut saya akan menjadi sombong secara rohani dan kesombongan ini akan membuat saya menjadi terpisah kembali dari Tuhan. Saya tidak mau terpisahkan lagi dari Tuhan seperti dahulu saat sebelum bertobat.
Namun, saya kembali diingatkan akan perintah Yesus kepada saya untuk menulis, berbagi pengajaran dan pengetahuan-pengetahuan yang diberikan oleh-Nya kepada saya, termasuk kisah pengalaman-pengalaman iman saya, sebagai penguatan iman bagi orang lain. Bahkan pastor pembimbing saya pun sejak awal mendorong saya untuk berbagi kisah pengalaman saya kepada komunitas untuk saling meneguhkan iman bahwa Tuhan Yesus itu hidup dan terus bekerja sampai sekarang.
DOSA MENGHALANGI ROH KUDUS HADIR
Sekitar pertengahan tahun 2019, suatu hari saya berjalan menuju ke sekolah anak saya untuk menjemputnya pulang dari sekolah. Sambil berjalan saya sambil berdoa Rosario. Selesai berdoa Rosario, saya lalu duduk di suatu tempat yang sepi, menunggu waktu bubar sekolah anak saya. Sambil duduk menunggu, dalam hati saya menyanyi memuji Tuhan, "Sebab Tuhan itu baik, Dia sungguh baik. Kasih-Nya nyata dalam hidup kita."
Tidak lama kemudian saya merasa seperti merinding tapi bukan merinding ketakutan. Saya merasakan seperti ada suatu kehadiran Ilahi yang turun dari atas langit datang mendekati saya. Saya merasakan kehadiran Ilahi itu ingin masuk ke dalam diri saya. Namun, seperti ada sesuatu yang menghalangi, kehadiran Ilahi itu tidak bisa masuk ke dalam diri saya sehingga akhirnya kehadiran Ilahi itu pun kembali naik ke atas langit meninggalkan saya. Setelah kehadiran Ilahi itu pergi meninggalkan saya, perasaan merinding itu pun hilang. Saat itu, secara batin, saya langsung sadar bahwa karena saya masih berdosa berat sehingga tubuh saya tidak layak menerima Roh Kudus untuk masuk ke dalam diri saya.
Ya, saat itu secara batin saya langsung menyadari bahwa kehadiran Ilahi itu adalah Roh Kudus. Kesadaran batin ini membuat saya ingin selekasnya memenuhi kehendak Tuhan untuk menyatakan pertobatan saya dengan mengakukan dosa-dosa saya di hadapan imam dan memohonkan ampun di hadapan Sakramen Maha Kudus atas dosa-dosa okultisme saya (percaya dan menggunakan jimat, mengizinkan mertua untuk melakukan ritual ala dukun di rumah saya, melakukan upacara bakaran persembahan kepada roh).
Masa pertengahan tahun 2019 itu memang saya sudah memutuskan untuk sungguh bertobat dan sudah mengetahui kehendak Tuhan tentang bagaimana saya harus menyatakan pertobatan saya. Namun, saya kesulitan untuk menemukan seorang imam yang bersedia mendengarkan pengakuan dosa saya sekaligus mengizinkan saya untuk bersujud di hadapan Sakramen Maha Kudus saat pengakuan dosa. Itulah sebabnya saya masih belum bisa melakukan pengakuan dosa di hadapan imam dan memohon ampun atas dosa okultisme di hadapan Sakramen Maha Kudus sesuai kehendak Tuhan.
PERTOBATAN DAN SAKRAMEN TOBAT MENGHADIRKAN ROH KUDUS
Rabu, 21 Agustus 2019, akhirnya saya berhasil mengakukan dosa-dosa saya di hadapan seorang imam dan bersujud di hadapan Sakramen Maha Kudus untuk memohon ampun Allah Tritunggal atas dosa-dosa okultisme saya. Selesai mengakukan dosa lalu sang imam mendoakan saya dengan menumpangkan kedua tangannya di atas kepala saya. Saat didoakan dengan penumpangan tangan oleh imam tersebut, tubuh saya tiba-tiba bergetar dan lidah saya sedikit bergerak pelan dengan sendirinya secara tidak jelas. Saya kemudian teringat pengalaman saya ketika mengikuti acara Kebangkitan Roh Kudus semasa kuliah dahulu.
Selesai didoakan, saya merasa terdorong untuk menceritakan pengalaman masa kuliah dahulu itu kepada sang imam tentang bagaimana lidah saya suka bergerak sendiri dengan cepat saat doa dan pujian. Oleh karena saya merasa kemampuan lidah bergerak sendiri ini hanya membuat orang menjadi sombong maka saya lalu menolak dan melawan setiap kali lidah saya hendak bergerak sendiri. Hingga akhirnya untuk seterusnya lidah saya tidak bisa bergerak dengan sendirinya lagi.
Sang imam yang mendengarkan kisah saya tersebut lalu menjelaskan bahwa kemampuan lidah bergerak dengan sendirinya itu, yaitu Bahasa Roh, adalah karunia Roh Kudus. Dan oleh karena itu adalah karunia maka saya tidak seharusnya menolaknya. Sang imam juga menyarankan saya untuk berdoa memohon kepada Roh Kudus supaya karunia ini tidak membuat saya menjadi sombong.
Kamis, 22 Agustus 2019, pagi hari ketika terbangun, saya mendapati jiwa saya sedang berdoa dan bernyanyi dengan sendirinya tanpa suara berulang-ulang: “God is wonderful. Walking with God. My heart rejoice. (Tuhan itu luar biasa. Berjalan bersama Tuhan. Hatiku bersukacita.)”
Pagi itu juga, selesai menyiapkan sarapan untuk suami dan anak, seperti biasanya saya hendak kembali tidur. Namun, ada dorongan hati yang menyuruh saya untuk membaca Alkitab. Akhirnya saya menuruti dorongan hati ini dan tidak jadi tidur kembali.
Saat saya sedang berdoa sebelum membaca Alkitab, tiba-tiba hati saya berkata, "I want to sing praise, my heart rejoice. (Aku ingin menyanyikan pujian, hatiku bersukacita.)"
Lalu tiba-tiba saya merasa merinding tapi bukan merinding ketakutan. Perasaan merinding karena ada kehadiran Ilahi yang datang mendekati saya. Setelah merinding, lalu lidah saya tiba-tiba bergerak sendiri, semakin lama semakin cepat. Tidak ada keinginan untuk menahan supaya lidah tidak bergerak. Saya teringat akan pesan sang imam untuk tidak menolak Roh Kudus sehingga saya biarkan badan fisik saya dikuasai oleh Roh Kudus.
Saat itu, walau lidah saya bergerak dengan cepat mengucapkan kata yang tidak jelas, namun secara batin saya bisa mengerti bahwa yang saya ucapkan adalah "Alleluya, alleluya, alleluya”. Dengan kepala mendongak ke atas, saya terus memberikan puji-pujian kepada Tuhan.
Selesai berdoa dan memuji Tuhan, tangan saya lalu secara sembarang membuka Alkitab untuk membaca pada halaman yang akan terbuka oleh tangan saya. Ternyata tangan saya membuka Alkitab pada bagian Kitab Pengkhotbah Bab 12 dan mata saya tertuju kepada ayat Pengkhotbah 12:13 yang berbunyi:
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.
Sejak hari itu, saya terus bisa merasakan kehadiran Roh Kudus dalam diri saya. Hari demi hari, ketika saya merasakan merinding, tapi bukan merinding ketakutan, maka saya mengetahui bahwa Roh Kudus sedang datang hendak masuk ke dalam diri saya. Saya merasakan kedatangan Roh Kudus yang turun dari atas datang menghampiri saya lalu masuk ke dalam diri saya dan menguasai tubuh fisik saya untuk berdoa, bernyanyi, memuji Tuhan ataupun hal lainnya yang Roh Kudus inginkan saya untuk lakukan.
SELAMAT DATANG, ROH KUDUS
Ketika saya mulai merasakan merinding dan mengenali bahwa Roh Kudus sedang datang maka saya akan segera menghentikan aktivitas yang sedang saya lakukan saat itu dan segera masuk ke dalam kamar tidur untuk mempersiapkan diri menerima Roh Kudus sambil menyapa, “Selamat datang, Roh Kudus.”
Saya sengaja masuk ke dalam kamar tidur supaya lebih privasi sehingga apa pun yang saya lakukan saat Roh Kudus sedang menguasai tubuh fisik saya tidak akan terlihat oleh orang lain melalui pintu dan jendela-jendela rumah saya.
Seiring waktu berlalu, saya bukan lagi merinding merasakan kehadiran Roh Kudus yang turun dari atas datang menghampiri saya melainkan saya merasakan ada pergerakan energi dari dalam dada saya. Saat Roh Kudus hadir hendak menguasai tubuh fisik saya maka saya akan merasakan ada energi yang muncul dari dalam dada saya dan energi ini bergerak naik ke atas kepala saya. Jadi, saat saya mulai merasakan ada pergerakan energi yang muncul dari dalam dada saya maka saya pun mengetahui bahwa Roh Kudus hendak menguasai tubuh saya untuk berdoa, bernyanyi, memuji Tuhan, dan sebagainya.
Selamat datang, Roh Kudus.
Kalau Allah mengutus Putera-Nya, Ia selalu mengutus juga Roh-Nya, sejak awal sampai akhir zaman; perutusan mereka berhubungan erat, mereka tidak dapat dipisahkan. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 743)
Kristus adalah bait Allah yang sebenarnya, "tempat, di mana kemuliaan-Nya tinggal". Oleh rahmat Allah, orang-orang Kristen pun menjadi bait Roh Kudus, menjadi batu-batu hidup, yang dengannya Gereja dibangun. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 1197)
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:19-20)
Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. (Yehezkiel 36:27)
Barang siapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita. (1 Yohanes 3:24)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
2 Februari 2022
HIS Little Servant
Yulianti Tay

