Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Kebenaran Iman: Allah Tritunggal Dalam Hidupku
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Indulgensi Saat Pesta Kerahiman Ilahi
Mengenal Bunda Maria, Bagian 1: Bunda Maria, Karunia Kerahiman Allah
Mengenal Bunda Maria,
Bagian 1: Bunda Maria, Karunia Kerahiman Allah
Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia. (Lukas 1:46-48)
MENGENAL BUNDA MARIA
Bunda Maria. Figur seorang yang sangat penting dalam sejarah Kristiani namun banyak disalahpahami oleh umat Non-Katolik. Bahkan umat Katolik sendiri pun banyak yang tidak sungguh memahami mengapa Bunda Maria begitu penting bagi umat. Kurangnya pengenalan dan pemahaman yang baik akan Bunda Maria membuat umat menolak untuk menghormati Bunda Maria, tidak menerima Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda umat manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus.
Umat Katolik tidak menyembah Bunda Maria. Umat Katolik sangat memahami bahwa Bunda Maria bukanlah Tuhan. Namun, umat Katolik menghormati dan mengasihi Bunda Maria sebagaimana Tuhan Yesus Sendiri menghormati dan mengasihi Bunda-Nya tersebut. Penghormatan yang umat Katolik berikan kepada Bunda Maria bukanlah bentuk penyembahan sebagaimana yang selalu dituduhkan oleh umat Non-Katolik.
Bunda Maria adalah figur istimewa yang harus diteladani oleh umat Kristiani. Saya jadi teringat, setiap kali pengakuan dosa, imam pengakuan saya pasti akan selalu memberi wejangan kepada saya untuk meneladani Bunda Maria. Kerendahan hatinya, ketaatannya, kesetiaannya. Walaupun saya hanya diam tertunduk mendengarkan wejangan imam pengakuan saya tersebut, namun saya selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa sang imam selalu menyebut Bunda Maria?
Mengapa saya harus selalu meneladani Bunda Maria?
Apakah tidak ada tokoh lain yang bisa saya teladani?
Namun, seiring waktu saya semakin mengenal Bunda Maria dan semakin memahami mengapa imam pengakuan meminta saya untuk selalu meneladani Bunda Maria. Sungguh, tidak ada tokoh lain yang lebih baik daripada Bunda Maria. Hanya Bunda Maria satu-satunya manusia ciptaan Tuhan yang sempurna tanpa cacat dan noda. Betapa saya sangat bersyukur memiliki imam pengakuan yang sangat bijaksana. Betapa saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan imam pengakuan yang telah memberikan pengarahan yang baik kepada saya.
BUNDA MARIA SANG BUNDA ALLAH DAN BUNDA UMAT MANUSIA
Pribadi Kedua dalam Tritunggal Maha Kudus, yaitu Tuhan Yesus, hendak dilahirkan sebagai manusia dalam karya penebusan umat manusia. Tuhan Yang Kudus tentu saja tidak bisa tinggal dalam pribadi manusia yang berdosa. Diperlukan seorang wanita yang kudus yang bebas dari dosa untuk bisa menjadi tempat Tuhan tinggal dalam rahimnya. Itulah sebabnya mengapa Tuhan harus secara khusus menciptakan manusia yang berbeda dari manusia-manusia lainnya supaya sang manusia ini layak untuk mengandung-Nya dan melahirkan-Nya.
"Tuhan telah mengutus Putera-Nya" (Galatia 4:4). Tetapi supaya menyediakan "tubuh bagi-Nya" (Ibrani 10:5), menurut kehendak-Nya haruslah satu makhluk bekerja sama dalam kebebasan. Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea, seorang perawan, yang "bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud: nama perawan itu Maria" (Lukas 1:26 27). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 488)
Oleh karena kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam dosa maka setiap manusia dilahirkan dengan mewarisi dosa manusia pertama ini. Itulah yang disebut dosa asal. Itulah sebabnya mengapa Bunda Maria harus dikandung tanpa noda, tanpa dosa asal. Sejak dalam kandungan, Bunda Maria telah dikuduskan oleh Tuhan, dibebaskan dari segala dosa dengan memberikan kepenuhan segala rahmat atas Bunda Maria. Dengan demikian, barulah Bunda Maria layak untuk mengandung Tuhan Yesus Yang Kudus. Hanya Bunda Maria satu-satunya manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang bebas dari segala dosa. Tidak akan ada lagi manusia lainnya yang khusus diciptakan oleh Tuhan seperti Bunda Maria.
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)
Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (Lukas 1:35)
Dari antara turunan Hawa, Allah memilih perawan Maria menjadi bunda Anak-Nya. "Penuh rahmat" ia adalah "buah penebusan termulia". Sejak saat pertama perkandungannya ia dibebaskan seluruhnya dari noda dosa asal dan sepanjang hidupnya ia bebas dari setiap dosa pribadi. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 508)
Walaupun Bunda Maria berada dalam kepenuhan rahmat Tuhan yang mampu membuatnya untuk tetap berada dalam keadaan bebas dari dosa, namun Tuhan tidak pernah mau memaksa Bunda Maria untuk mengikuti kehendak-Nya. Tuhan sangat menghargai kehendak bebas manusia. Tuhan menghendaki umat manusia untuk menggunakan kehendak bebasnya dalam mengikuti kehendak-Nya dan bukan oleh karena paksaan dari-Nya. Itulah sebabnya diperlukan juga kerja sama dari pihak Bunda Maria dengan berdasarkan kehendak bebasnya untuk bersedia menuruti kehendak Tuhan. Dan ketika Bunda Maria menjawab, “Ya’, atas kehendak Tuhan terhadap dirinya walaupun saat itu Bunda Maria tidak memahami kehendak Tuhan tersebut, namun karena ketaatannya, maka Bunda Maria bersedia menuruti setiap kehendak Tuhan atas dirinya. Bayangkan, kalau Bunda Maria menolak kehendak Allah itu maka Tuhan Yesus tidak akan dilahirkan di dunia.
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Lukas 1:38)
Perawan Maria "dengan iman dan ketaatan yang bebas, telah bekerja sama untuk keselamatan manusia". Sebagai "wakil seluruh kodrat manusia" ia mengucapkan perkataan "Ya". Oleh ketaatannya ia menjadi Hawa baru, menjadi Bunda orang-orang hidup. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 511)
Sepanjang hidupnya Bunda Maria telah menunjukkan kerendahan hati, kesetiaan dan ketaatan total terhadap setiap kehendak Tuhan. Itulah sebabnya walaupun sebagai seorang ibu yang tentu saja sangat mengasihi Putra Tunggalnya dan merasa sangat sedih menderita melihat Putra Tunggalnya tersebut disiksa dengan sangat keji tanpa keadilan, namun Bunda Maria hanya diam menanggung segala penderitaannya itu dalam keheningan. Bunda Maria sangat memahami bahwa penderitaan Putranya sangat diperlukan dalam upaya menebus umat manusia yang berdosa sebagai pemenuhan atas kehendak Allah Bapa.
Umumnya seorang ibu akan berusaha melindungi anaknya supaya tidak disiksa tanpa keadilan. Sang ibu mungkin akan berusaha menghalangi atau menghentikan tindakan penyiksaan terhadap anaknya. Sang ibu mungkin juga akan berteriak-teriak untuk mencari simpati pertolongan terhadap anaknya supaya dibebaskan dari ketidakadilan. Namun, semua itu tidak dilakukan oleh Bunda Maria. Dalam keheningan, Bunda Maria menanggung semua penderitaan kesesakan dan kesakitan hatinya akibat menyaksikan penderitaan yang ditanggung oleh Putranya. Saat berjumpa dengan Tuhan Yesus di dalam perjalanan menuju Golgota, saat berdiri di bawah kaki Salib Tuhan Yesus, saat menerima jasad Tuhan Yesus dan menguburkan-Nya, Bunda Maria menanggung semua penderitaannya dalam keheningan dan ketaatan total terhadap kehendak Allah Bapa. Bunda Maria ikut ambil peran dalam penderitaan Tuhan Yesus di Salib-Nya.
Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia – sesuai dengan rencana Allah - berdiri di dekat-Nya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan kurban-Nya, dan penuh kasih menyetujui persembahan kurban yang dilahirkannya. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 964)
Kemudian aku melihat diriku sendiri di tengah himpunan besar murid-murid Yesus dan para rasul bersama dengan Bunda Allah. Yesus sedang menyuruh mereka untuk "… pergilah ke seluruh dunia dan ajarlah mereka dalam nama-Ku." Ia mengulurkan tangan-Nya dan memberkati mereka, lalu menghilang di balik awan. Aku menyaksikan kerinduan Bunda kita. Dengan segenap kekuatan cintanya, jiwanya merindukan Yesus. Tetapi, ia sedemikian tenang dan sedemikian bersatu dengan kehendak Allah sehingga di dalam hatinya tidak ada gejolak lain kecuali yang dikehendaki Allah. (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1710)
Kerendahan hatinya, kesetiaannya, ketaatannya dan keselarasan kehendaknya dengan kehendak Tuhan begitu memesona Tuhan sehingga Tuhan pun menghormati dan mengasihinya secara istimewa. Bunda Maria pun diangkat menjadi Bunda Allah dan Bunda umat manusia.
Maria sesungguhnya "Bunda Allah", karena ia adalah Bunda Putera Allah abadi yang menjadi manusia, yang sendiri adalah Allah. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 509)
Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi "wanita"; Hawa baru, "bunda orang-orang hidup", bunda "Kristus paripurna". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 726)
Bersama Elisabet kita merasa heran, "Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?" (Lukas 1:43). Karena Maria hendak memberi kita Puteranya Yesus, maka ia yang adalah Bunda Allah, juga menjadi Bunda kita. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 2677)
Ketika aku melanjutkan Ibadat Sore, sambil merenungkan perpaduan antara penderitaan dan rahmat ini, aku mendengar suara Bunda kita, “Ketahuilah, Putriku, bahwa meski aku diangkat ke martabat Bunda Allah, tujuh pedang penderitaan menusuk hatiku…” (Buku Harian Santa Faustina Nomor 786)
BUNDA MARIA SANG PERAWAN
Pastor Chris Alar mengatakan bahwa Bunda Maria adalah karunia kerahiman dari Tuhan. Tuhan mengaruniakan Bunda Maria menjadi bunda bagi umat manusia. Sebuah karunia yang keluar dari kerahiman Tuhan yang tak terselami. Karunia ini diberikan oleh Tuhan Yesus menjelang wafat-Nya di Salib.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:26-27)
Dan akhirnya oleh Yesus Kristus itu juga, menjelang wafat-Nya di kayu salib, ia dikaruniakan kepada murid menjadi Bundanya dengan kata-kata ini: 'Wanita, inilah anakmu' (Yohanes 19:26-27). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 964)
Tentu saja banyak kontroversi diajukan dalam kenyataan pemberian Bunda Maria sebagai Bunda umat manusia oleh Tuhan Yesus menurut kisah Injil Yohanes tersebut. Umat Non-Katolik berargumen bahwa Tuhan Yesus hanya memberikan Bunda Maria kepada Yohanes untuk diurus dan dijaga oleh Yohanes. Ada juga yang beranggapan bahwa Yohanes sudah tidak mempunyai ibu sehingga Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria sebagai ibunya Yohanes.
Dalam membaca Alkitab, tidak semua kata bisa ditafsirkan secara harafiah. Juga tidak bisa diartikan menurut konteks kehidupan jaman sekarang yang jelas sangat jauh berbeda dengan jaman di mana Alkitab ditulis. Oleh karena itu, dalam menangkap dan memahami makna yang tertulis dalam Alkitab, sangat diperlukan pengetahuan akan budaya dan tradisi jaman saat Alkitab tersebut ditulis dan juga latar belakang penulis Alkitab tersebut.
Menurut budaya dan tradisi Yahudi pada jaman Yesus hidup, adalah kewajiban seorang anak untuk menanggung kehidupan ibunya yang janda. Bunda Maria adalah seorang janda. Santo Yosef (suami Bunda Maria) telah meninggal dunia sebelum Yesus memulai misi-Nya. Gereja Katolik memegang kepercayaan bahwa Santo Yosef dan Bunda Maria tidak memiliki anak selain Yesus. Sedangkan Gereja Non-Katolik mempercayai bahwa setelah Bunda Maria melahirkan Yesus maka Santo Yosef dan Bunda Maria hidup sebagaimana layaknya suami istri dan melahirkan anak-anak lainnya selain Yesus.
Perlu diketahui, dalam budaya Yahudi, menjaga kekudusan adalah hal yang sangat penting. Orang Yahudi tidak berani untuk menodai sesuatu yang dianggap kudus. Santo Yosef yang merupakan orang Yahudi yang saleh sungguh memahami bahwa Bunda Maria adalah orang yang dikuduskan oleh Tuhan, yang mengandung Anak dari benih Roh Kudus. Sudah pasti Santo Yosef tidak akan berani untuk menodai kekudusan Bunda Maria walaupun dia adalah istrinya yang sah. Bunda Maria dikuduskan oleh Tuhan, milik Tuhan Yang Kudus, sesuai budaya Yahudi, maka sudah menjadi kewajiban Santo Yosef untuk menjaga kekudusan Bunda Maria sehingga Santo Yosef tidak pernah menyentuh Bunda Maria dalam hubungan suami istri. Dengan demikian, walaupun telah melahirkan Yesus, Bunda Maria tetaplah perawan selamanya. Bunda Maria tidak melahirkan anak-anak lain selain Yesus, Putra Tunggalnya.
Keperawanan Maria menunjukkan bahwa Allah mempunyai prakarsa absolut dalam penjelmaan menjadi manusia. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 503)
Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan, juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia. Oleh kelahiran-Nya "Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya". Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai "yang selalu perawan" [Aeiparthenos]. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 499)
Pada jaman itu, apabila seorang wanita hamil tanpa suami maka sang wanita akan mendapat hukuman rajam dari umat Yahudi. Demi melindungi Bunda Maria dan Yesus yang berada dalam kandungannya, maka Santo Yosef sangatlah diperlukan pula perannya dalam karya penebusan umat manusia oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Santo Yosef harus menjadi suami Bunda Maria walaupun hanya sekedar status saja. Santo Yosef menjadi pelindung Keluarga Kudus, Bunda Maria dan Yesus.
Sejak awal mula Yesus adalah "yang dikuduskan oleh Bapa dan yang diutus-Nya ke dunia" (Yohanes 10:36), karena Ia dikandung dalam rahim Perawan Maria sebagai "kudus". Yosef diajak oleh Allah supaya menerima Maria sebagai isterinya "sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Matius 1:20) supaya Yesus, "yang dinamakan Kristus", dilahirkan dari isteri Yosef sebagai turunan Daud yang mesianis (Matius 1:16). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 437)
Kadang-kadang orang mengajukan keberatan bahwa di dalam Kitab Suci dibicarakan tentang saudara dan saudari Yesus. Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus dan Yosef yang disebut sebagai "saudara-saudara Yesus" (Matius 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan "Maria yang lain" (Matius 28:1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama, mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 500)
Orang Yahudi memiliki hubungan persaudaraan yang sangat kental. Panggilan saudara tidak hanya diperuntukan dalam hubungan kakak adik kandung saja, namun bagi sanak saudara yang dekat pun dipanggil sebagai saudara. Maka sebutan saudara Yesus yang kerap disebut dalam Injil, itu bukanlah mengacu kepada saudara kandung Yesus melainkan kepada sanak saudara Yesus sesuai dengan arti bahasa yang digunakan pada jaman itu.
BUNDA MARIA SEBAGAI KARUNIA KERAHIMAN ALLAH
Kembali kepada Yesus mengaruniakan Bunda Maria sebagai Bunda umat manusia yang diwakili oleh Yohanes. Pada saat itu, ibunya Yohanes (Maria, istri Klopas) pun juga ada di sana bersama-sama dengan Bunda Maria dan Maria Magdalena (Yohanes 19:25). Jadi apabila umat mengatakan bahwa Yohanes sudah tidak mempunyai ibu lagi sehingga Yesus memberikan Bunda-Nya kepadanya, itu tidaklah benar. Kalaupun umat mengatakan bahwa Yohanes adalah saudara kandung Yesus, maka perkataan Yesus yang menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes, “Inilah ibumu”, maka perkataan Yesus itu pun menjadi hal yang tidak masuk akal.
Yohanes adalah murid yang dikasihi Yesus. Umat manusia pun adalah makhluk ciptaan-Nya yang dikasihi-Nya. Maka saat di kaki Salib itu, Yohanes, satu-satunya murid Yesus yang hadir di situ, yang merupakan murid yang dikasihi-Nya, mewakili umat manusia yang dikasihi Yesus, menerima karunia pemberian Bunda Maria dari Yesus sebagai bundanya. Dengan demikian, Bunda Maria diberikan sebagai karunia kerahiman oleh Yesus bagi umat manusia.
Kemudian, aku melihat Sang Perawan Kudus, elok tak terperikan. Ia turun dari altar ke tempat aku berlutut, merangkul aku erat-erat dan berkata kepadaku, “Aku adalah Bunda bagi kamu semua berkat kerahiman Allah yang tak terselami. Yang paling menyenangkan hatiku adalah jiwa yang dengan setia melaksanakan kehendak Allah.” (Buku Harian Santa Faustina Nomor 449)
Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Sebelum komuni kudus, aku melihat Bunda Suci, indah tak terperikan. Sambil tersenyum manis, ia berkata kepadaku, "Putriku, atas perintah Allah aku menjadi lbumu dengan cara yang khusus dan istimewa; aku ingin agar engkau pun secara istimewa menjadi anakku." (Buku Harian Santa Faustina Nomor 1414)
Begitu besarnya kasih kerahiman Allah sehingga tidak hanya Putra Tunggal-Nya saja yang telah diberikan-Nya kepada umat manusia, namun bahkan juga telah memberikan seorang Bunda Kudus. Bunda yang telah membawa Tuhan kepada dunia maka Bunda ini pun akan membawa Tuhan kepada sang umat yang bersedia menerima Bunda Maria sebagai bundanya. Bunda yang begitu dikasihi oleh Tuhan, Bunda yang begitu mengasihi umat manusia sebagai anak-anaknya, Bunda yang akan mengajarkan umat manusia bagaimana untuk mengasihi Tuhan secara sempurna sebagaimana dia mengasihi Tuhan secara sempurna melalui ketaatannya. Apakah umat masih hendak menolak karunia yang telah diberikan-Nya itu?
Jangan pernah takut terlalu mencintai Perawan Terberkati. Anda tidak akan pernah bisa mencintainya lebih dari Yesus mencintainya. (Santo Maximilian Kolbe)
Kita tidak pernah memberikan penghormatan yang lebih kepada Yesus dibandingkan saat kita menghormati Bunda-Nya, dan kita menghormatinya dengan sederhana dan semata-mata untuk menghormati Dia dengan lebih sempurna. (Santo Louis Marie De Montfort)
Jika Anda pernah merasa tertekan dalam menjalani harimu, panggillah Bunda Maria. Ucapkan saja doa sederhana ini, "Maria, Bunda Yesus, jadilah ibu bagiku sekarang". Harus saya akui: doa ini tidak pernah mengecewakan saya. (Bunda Teresa dari Kalkuta)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
7 Mei 2023
HIS Little Servant
Yulianti Tay

