Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Kebenaran Iman: Allah Tritunggal Dalam Hidupku
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Indulgensi Saat Pesta Kerahiman Ilahi
Mengenal Bunda Maria, Bagian 1: Bunda Maria, Karunia Kerahiman Allah
Mengenal Bunda Maria,
Bagian 2: Peranan Maria (Part 1)
Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. (Kisah Para Rasul 1:14)
Suatu kali, seorang kawan saya mengatakan bahwa Maria, ibu Yesus, selama masih hidup sangat digunakan oleh Allah, menjadi saksi iman dalam menjawab kehendak Allah dan melepaskan kehendaknya supaya terjadi kehendak Allah saja, namun umat tidak diperkenankan untuk berdoa kepadanya atau pun melaluinya.
Benarkah? Apakah umat sungguh tidak diperkenankan untuk berdoa melalui Bunda Maria?
Untuk memahami apakah umat diperkenankan untuk berdoa melalui Bunda Maria maka hal pertama yang harus diketahui adalah apakah peranan Bunda Maria yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi umat-Nya.
MARIA: BUNDA KRISTUS, BUNDA GEREJA
Tentang peranan Perawan Maria dalam misteri Kristus dan Roh Kudus, sudah dibicarakan. Sekarang perlu kita renungkan tempatnya dalam misteri Gereja. "Perawan Maria diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya... 'Ia memang Bunda para anggota [Kristus]... karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerja samanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu' (Agustinus, virg. 6)". "Maria, Bunda Kristus, Bunda Gereja" (Paulus VI, Wejangan 21 Nopember 1964). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 963)
Oleh "fiat", yang Maria ucapkan pada saat "Warta Gembira" dan yang dengannya ia memberi persetujuannya untuk misteri inkarnasi, ia sudah berperan serta dalam karya, yang akan diselesaikan Puteranya. Di mana saja Kristus berada sebagai Penebus dan Kepala Tubuh Mistik, di situ Maria berada sebagai Bunda. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 973)
Istilah biblis untuk Gereja [ekklesia] secara harfiah berarti "undangan untuk berkumpul". Itu berarti himpunan orang-orang, yang dipanggil oleh Sabda Allah, supaya mereka membentuk satu Umat Allah, dan dipelihara oleh Tubuh Kristus, menjadi Tubuh Kristus sendiri. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 777)
Gereja, himpunan umat Allah, merupakan Tubuh Mistik Kristus dimana Kristus adalah sebagai Kepala Gereja. Maria adalah Bunda Kristus dan di mana Kristus berada maka di situ Maria berada sebagai Bunda. Dengan demikian bisa dipahami mengapa Maria bukan hanya Bunda Kristus melainkan juga merupakan Bunda Gereja.
Apa peranan bunda? Seorang bunda adalah seseorang yang mengasuh, mendidik, menjaga dan melindungi anak-anaknya dengan penuh kasih keibuan. Maka Bunda Maria mengasuh, mendidik, menjaga dan melindungi Gereja sebagai anak-anaknya yang adalah Tubuh Mistik Kristus.
Bukan tanpa alasan Yesus mengaruniakan Maria kepada Yohanes menjelang wafat-Nya di kayu salib dengan berkata, “Wanita, inilah anakmu” (Yohanes 19:26-27). Dengan mengaruniakan Bunda-Nya kepada umat Allah yang diwakili oleh Yohanes maka sebetulnya Yesus memberikan peranan kepada Maria untuk mengasuh, mendidik, menjaga dan melindungi umat-Nya sebagaimana Maria telah mengasuh, mendidik, menjaga dan melindungi-Nya semasa hidup-Nya di bumi.
MARIA: PENGACARA, PEMBANTU, PENOLONG, PERANTARA
"Adapun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankannya di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke surga, ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita karunia-karunia yang menghantar kepada keselamatan kekal... Oleh karena itu di dalam Gereja santa Perawan disapa dengan gelar: pengacara, pembantu, penolong, dan perantara". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 969)
Yesus Kristus adalah satu-satunya Perantara umat manusia kepada Allah Bapa. Namun, ada banyak perantara yang bisa menghubungkan umat manusia dengan Tuhan Yesus. Dari seluruh perantara kepada Tuhan Yesus, Bunda Maria adalah perantara terunggul. Bukan hanya kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Kristus, namun karena kesatuan yang sempurna antara Maria dan Tuhan Yesus yang menjadi keunggulan peranan Maria sebagai perantara umat manusia kepada Putranya tersebut.
Tugas Maria terhadap Gereja tidak bisa dipisahkan dari persatuannya dengan Kristus, tetapi langsung berasal darinya. "Adapun persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh santa Perawan hingga wafat-Nya". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 964)
Banyak umat yang salah paham dengan peranan Bunda Maria sebagai perantara. Umat mengira bahwa Maria adalah perantara selain Yesus kepada Allah Bapa, padahal Yesus adalah satu-satunya Perantara kepada Allah Bapa. Atau umat merasa bahwa umat tidak memerlukan perantara untuk sampai kepada Yesus, umat bisa langsung menuju kepada Yesus.
Ya, betul, umat memang bisa langsung menuju kepada Yesus. Lalu mengapa perlu perantara?
Tentang kebutuhan akan perantara, bukankah terkadang umat pun kerap menggunakan umat lainnya sebagai perantara untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yesus? Betapa sering umat merasa tidak percaya bahwa permohonannya akan didengar dan dikabulkan oleh Tuhan Yesus sehingga sang umat pun meminta bantuan seorang umat lainnya yang dianggap doa permohonannya lebih manjur untuk mendoakannya. Mungkin karena umat lain tersebut dianggap memiliki kehidupan rohani yang lebih baik, mempunyai relasi yang lebih baik dengan Tuhan sehingga doa permohonannya pun akan lebih didengarkan oleh Tuhan. Jadi umat lain yang dianggap lebih baik ini dijadikan sebagai perantara oleh sang umat untuk membantu mendoakannya, menyampaikan doa permohonannya kepada Tuhan Yesus.
Kalau saja seorang manusia yang masih hidup di dunia ini yang tidak bebas dari dosa bisa dijadikan sebagai perantara kepada Tuhan Yesus, mengapa Bunda Maria tidak bisa menjadi perantara kepada Putranya tersebut? Bunda Maria yang jelas-jelas adalah seorang yang kudus dan mempunyai kesatuan yang sempurna dengan Tuhan Yesus tentu saja akan menjadi perantara yang paling unggul dari semua perantara yang ada.
Umat mungkin bisa saja membantah bahwa Maria sudah tidak hidup di dunia ini lagi. Maria sudah meninggal dan tugasnya sudah selesai. Setelah meninggal, Maria sudah bukan siapa-siapa lagi yang perlu diperhatikan oleh umat, sudah tidak mempunyai peranan apa-apa lagi. Apakah benar setelah Maria meninggal maka Maria sudah tidak berguna lagi?
Apabila seorang pelukis menghasilkan karya lukisan terbaiknya, apakah sang pelukis lantas akan menyia-nyiakan lukisannya tersebut, setelah dipamerkannya ke seluruh dunia lalu lukisan tersebut akan disimpannya di gudang? Tentu saja tidak. Sang pelukis tentu akan tetap meletakkan lukisan terbaiknya tersebut dalam suatu tempat yang terhormat agar lukisan tersebut tetap dapat dikagumi sepanjang masa.
Apabila seorang pencipta ulung menciptakan suatu alat paling jenius yang tidak bisa diciptakan oleh para pencipta lainnya, apakah sang pencipta tersebut lantas akan membuang alat tersebut setelah masa pakainya sudah habis? Tentu saja tidak. Sang pencipta tersebut akan tetap menyimpan hasil karya ciptaannya tersebut dengan baik supaya alat tersebut tetap bisa menjadi contoh bagi para pencipta lainnya dan dikenang sepanjang masa sebagai hasil ciptaan terbaiknya.
Kalau saja manusia bisa tahu menghargai hasil karya terbaiknya, apalagi Tuhan. Maria adalah hasil ciptaan-Nya yang terbaik dari seluruh karya ciptaan-Nya. Kerendahan hati, ketaatan, keheningan jiwa dan kesetiaan Maria menjadi keindahan teristimewa di Mata Tuhan yang sangat memesona-Nya. Tentu saja Tuhan akan tetap terus menggunakan Maria sebagai alat-Nya sepanjang masa. Itulah sebabnya Maria dipercayakan oleh Tuhan untuk tetap terus memegang peranan penting, di Bumi maupun di Surga.
Kematian Maria di bumi tidak menghilangkan peranan Maria sebagai Bunda Kristus dan Bunda Gereja, sebagai perantara umat kepada Tuhan Yesus.
Maria yang semasa hidupnya di Bumi telah bersama-sama dengan Yesus dan para murid-Nya, setelah meninggal pun, Maria tetap bersama-sama dengan Yesus dan umat-Nya.
Maria yang semasa hidupnya di Bumi telah menjadi perantara bagi umat seperti dalam kisah perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-12) maka setelah meninggal pun Maria tetaplah menjadi perantara bagi umat terhadap Putranya, Yesus Kristus.
"Kami percaya bahwa Bunda Allah tersuci, Hawa yang baru, Bunda Gereja, melanjutkan di dalam surga keibuannya terhadap anggota-anggota Kristus". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 975)
Injil menyatakan kepada kita, bagaimana Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 2618)
"Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut". Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.
"Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu" (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus). (Katekismus Gereja Katolik Nomor 966)
Yesus sendiri menjanjikan bahwa semua pengikut-Nya, akan tinggal bersama dengan Dia di rumah Bapa. Di antara semua pengikut Yesus, Maria pastilah sangat istimewa. Allah memasukkan dia dalam rencana keselamatan, disiapkan dalam kandungan secara tanpa noda, mengandung Yesus dalam rahimnya, hingga berdiri di bawah salib-Nya. Berkat kedekatan dengan Puteranya ini, Maria menjadi yang pertama dan istimewa dalam kepenuhan janji Tuhan.
Itulah yang ditegaskan Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus dari Paus Pius XII, ketika menyatakan dogma Maria Diangkat ke Surga (1 November 1950), yaitu: “bahwa Bunda Allah tak bernoda, Maria selalu perawan, sesudah menggenapi perjalanan hidupnya di dunia, diangkat badan dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi” (no. 44). Apakah Maria meninggal dulu sebelum diangkat ke surga? Ya. Sesuai dogma itu, Maria diangkat ke surga sesudah kematiannya. Namun, dokumen menekankan adanya keistimewaan pada Maria, yaitu pada proses dalam tubuhnya: Seturut hukum alami sesudah kematian tubuh menjadi rusak, dan seturut iman akan digabungkan kembali dengan jiwanya yang mulia pada akhir jaman, tetapi “Allah menghendaki bahwa Perawan Maria terberkati dikecualikan dari hukum umum ini. Berkat privilege yang unik, dia secara penuh mengatasi dosa oleh perkandungannya yang tak bernoda, dan sebagai akibatnya dia tidak tunduk kepada hukum jazad dalam pembusukan kubur, dan dia tidak perlu menunggu sampai akhir zaman untuk penebusan tubuhnya” (no. 4 dan 5). Jadi sekali lagi, dogma tersebut tidak menyangkal kematiannya, melainkan menekankan keistimewaan pada tubuhnya, yaitu bahwa tubuhnya itu tanpa rusak, diangkat ke surga dengan mulia, tanpa menunggu pada akhir zaman.
Sumber: Kematian Maria, https://www.hidupkatolik.com/2018/12/21/30292/kematian-maria.php
Umat mungkin saja meragukan apakah betul Maria diangkat tubuhnya ke surga. Apa buktinya? Menurut pendapat Pastor Chris Alar, kalau Maria tidak sungguh diangkat tubuhnya ke Surga maka seharusnya akan ada peninggalan relik dari jasad Maria. Namun, kenyataannya tidak ada peninggalan relik apa pun dari jasad Maria. Karena apabila sungguh ada peninggalan relik dari jasad Maria maka Gereja Timur sudah pasti akan menjadikannya sebagai tempat penziarahan bagi umat sebagaimana halnya dilakukan terhadap relik dari jasad para Rasul.
MARIA: PENUNJUK JALAN KEPADA TUHAN YESUS
Umat Non-Katolik mengira bahwa dengan umat berdoa melalui Bunda Maria maka umat menjadi salah jalan karena umat jadi menuju kepada Maria dan bukan kepada Tuhan Yesus. Hal ini tidaklah benar. Bunda Maria tidak merebut umat dari Tuhan Yesus, tidak menghalang-halangi umat untuk sampai kepada Tuhan Yesus. Sebaliknya, Bunda Maria akan membawa umat untuk lebih cepat sampai kepada Putranya itu.
Seperti yang Pastor Chris Alar kerap katakan bahwa Bunda Maria itu adalah ibarat seperti GPS (Global Positioning System), penunjuk jalan. Saat seseorang hendak menuju ke suatu tempat maka GPS akan mengarahkan, menunjukkan jalan untuk bagaimana mencapai tempat tujuan tersebut. Jadi, apabila umat berpaling kepada Bunda Maria maka Bunda Maria akan bertindak sebagai GPS yang akan membawa umat untuk sampai kepada Tuhan Yesus. Tujuan akhirnya adalah Tuhan Yesus, bukan Maria.
Yesus, Perantara satu-satunya, adalah jalan doa kita; Maria, ibu-Nya dan ibu kita, tidak menghalang-halangi kita. Sebaliknya sesuai dengan lukisan yang biasa di Timur dan Barat, ia adalah "penunjuk jalan" [Hodegetria] dan "rambu" Kristus. (Katekismus Gereja Katolik Nomor 2674)
"Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh santa Perawan Maria yang menyelamatkan manusia... berasal dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung daripadanya, dan menimba segala kekuatannya daripadanya". "Sebab tiada makhluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah dengan cara yang berbeda-beda pula terpancarkan secara nyata dalam makhluk-makhluk, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada makhluk-makhluk aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber". (Katekismus Gereja Katolik Nomor 970)
Saya akan melanjutkan penulisan tentang peranan Bunda Maria di tulisan berikutnya, Part 2.
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
22 Mei 2023
HIS Little Servant
Yulianti Tay

