CAHAYA IMAN KATOLIK

Tentang Penulis

Yulianti dilahirkan pada tahun 1977 di Jakarta, Indonesia, dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada usia 17 tahun. Yulianti merupakan alumnus Universitas Katolik Parahyangan di Bandung dengan lulusan dari Jurusan Teknik Kimia tahun 2001. Pada tahun 2003, Yulianti bertualang ke negeri Singapura untuk mencari pekerjaan dan telah menetap di Singapura hingga sekarang. Saat ini Yulianti menjadi seorang ibu rumah tangga dan dikaruniai oleh Tuhan tiga orang anak. 

Masa awal Yulianti tinggal di Singapura, dia merasakan ada kebutuhan untuk bisa tetap bergaul dengan sesama dari tanah air. Maka dia kemudian aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Keluarga Katolik Indonesia di Singapura (KKIS), termasuk kegiatan Muda Mudi Katolik (Mudika). Setelah menikah dengan seorang yang Non-Katolik, dia menjadi jarang menghadiri Perayaan Ekaristi di Gereja. Bahkan setelah mengalami keguguran pada kehamilan yang pertama, dia sudah tidak ke Gereja lagi.

Setelah kelahiran anak yang ketiga, keluarga Yulianti mengalami gangguan-gangguan spiritual dengan kehadiran roh-roh kegelapan di dalam rumah. Gangguan-gangguan ini bahkan sampai menyebabkan anak pertama dan anak kedua terluka. Segala cara menurut cara duniawi sudah Yulianti lakukan untuk mengatasi gangguan-gangguan tersebut, seperti memasang jimat dari pemberian orang tua dan mertuanya, melakukan ritual pembersihan rumah dari kehadiran roh kegelapan oleh mertuanya dan melakukan ritual persembahan sesajian di perempatan jalan. Namun, semua cara itu tidak ada satu pun yang sungguh bisa mengatasi gangguan-gangguan spiritual yang dialami.

Merasa frustrasi dengan semua hal yang terjadi dan didorong oleh kekhawatiran bahwa anak-anaknya akan terluka lagi, membuat Yulianti merasa tidak berdaya. Rasa tidak berdaya ini kemudian memunculkan titik terang kesadaran bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang bisa mengatasi segalanya. Titik terang kesadaran ini membuat Yulianti berbalik kembali mencari kehadiran Tuhan hingga akhirnya dia mengalami pertobatan sejati dan hidup baru dalam Roh Kudus (silahkan klik untuk membaca: Hidup Baru Dalam Roh Kudus).

Pertobatan dan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan Yulianti membuat kehidupannya menjadi berubah drastis. Di bawah bimbingan Romo Yohanes Antun Wardoyo, SSCC, Yulianti berusaha menjalankan tugas yang diterimanya dari Tuhan Yesus, yaitu berdoa dan menulis. Romo Antun membantu Yulianti untuk membedakan apakah inspirasi-inspirasi yang diterimanya adalah sungguh berasal dari Tuhan dan sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Romo Antun juga mengarahkan Yulianti untuk bagaimana menanggapi karya Roh Kudus dalam kehidupannya.

Sesuai dengan kehendak Tuhan dan atas persetujuan dari Romo Antun, Yulianti membentuk Komunitas Novena 54 Hari Rosario yang tergabung dalam whatsapp group Novena 54 Hari Rosario yang dibentuk pada tanggal 22 Januari 2023. Komunitas ini adalah untuk mengumpulkan orang-orang yang hendak bergabung untuk berdoa bersama Novena 54 Hari Rosario dengan anggotanya adalah orang-orang Indonesia yang berada di manca negara seperti Singapura, Indonesia (dari Sabang sampai Merauke), Malaysia, Australia, Amerika, dll. Romo Antun telah mengkonsekrasikan Komunitas Novena 54 Hari Rosario kepada Hati Kudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Maria. Hingga sekarang, Komunitas ini telah melakukan Novena 54 Hari Rosario secara berkesinambungan dengan intensi-intensi tertentu yang berbeda setiap periodanya.

Yulianti menerima inspirasi dari Tuhan untuk membentuk sebuah website agar bisa menjangkau semakin banyak orang untuk bertumbuh dalam iman, menghayati iman dengan hidup dalam iman. Kembali, atas kehendak Tuhan dan dengan persetujuan Romo Antun, serta dengan bantuan para sukarelawan untuk mewujudkan terbentuknya website ini, maka Yulianti mempersembahkan website ini kepada Hati Kudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Maria.