Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Bunga Syukur
Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita (Efesus 5:20)
Oh, pengurbanan-pengurbanan harian yang kecil, bagiku engkau ibarat bunga-bunga kebun yang kutaburkan di kaki Yesus yang tercinta... (Buku Harian St Faustina Nomor 208)
Kamis, 12 Mei 2022, dalam doa pagi, seperti biasanya saya sujud menyembah di hadapan Takhta Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Setelah menyapa Allah Bapa, entah halusinasi entah imajinasi, saya merasa seakan saya dituntun oleh Allah Bapa berjalan menuju ke suatu tempat. Saya yang dalam rupa seorang anak kecil, tangan kanan saya yang kecil dituntun oleh tangan kiri Allah Bapa. Lalu saya melihat suatu padang bunga. Sepanjang mata memandang adalah hamparan bunga warna warni yang segar nan indah. Saya tidak mencium aroma apa pun, tepatnya tidak bisa mencium aroma apa pun, termasuk aroma bunga. Walaupun saya tidak mencium adanya aroma wewangian bunga namun saya tahu kalau bunga-bunga di padang itu harum mewangi semerbak.
Saya menoleh kepada Allah Bapa dan berkata, "Abba, Engkau suka bunga apa? Kalau mawar kan itu kesukaan Bunda Maria, kalau Abba apa? Aku tahu Engkau menyukai keharuman bunga."
Saat itu saya pun teringat akan perkataan Santa Faustina dalam Buku Harian-nya yang mengibaratkan pengorbanan-pengorbanan kecil yang ia lakukan setiap harinya sebagai bunga-bunga kebun yang ditaburkan di kaki Yesus.
Saya tidak bisa melihat Wajah Allah Bapa. Memang saya tidak pernah bisa melihat Wajah Allah Bapa. Saya hanya bisa melihat figur Allah Bapa setengah badan ke bawah sedangkan setengah badan ke atas tidak bisa terlihat oleh saya. Hanya berupa bayangan kabur. Maka walaupun saya menoleh kepada Allah Bapa yang berdiri di samping saya, saya tidak bisa melihat Wajah Allah Bapa. Saya menanti-nantikan jawaban Allah Bapa atas pertanyaan saya. Saya mengharapkan untuk menerima jawaban namun saya tidak menerima jawaban apa pun.
Setelah itu, Allah Bapa dan saya duduk di sebuah kursi panjang. Kursi itu adalah satu-satunya kursi yang berada di padang bunga tersebut. Kami duduk sambil melihat hamparan bunga di depan kami. Saya berusaha untuk diam menantikan kata-kata Allah Bapa. Tapi jiwa saya yang berisik tidak mampu diam sehingga saya selalu berceloteh kepada Allah Bapa. Terkadang saya tahu apa yang saya bicarakan, akan tetapi lebih sering saya tidak tahu apa yang saya bicarakan kepada Allah Bapa. Tidak lama kemudian saya memeluk pinggang Allah Bapa untuk berpamitan karena saya ingin pergi menyapa Yesus dan Roh Kudus.
Masih dalam doa pagi tersebut, setelah saya menyapa Yesus, Roh Kudus dan Bunda Maria, lalu saya menyapa Malaikat Pelindung saya. Saya mencurahkan perasaan-perasaan syukur saya ke dalam suatu bejana yang nantinya akan dibawa oleh Malaikat Pelindung saya untuk dipersembahkan kepada Allah Bapa. Saya berkata kepada Malaikat Pelindung saya, "Aku tidak punya apa-apa yang bisa kupersembahkan saat ini. Hanya perasaan syukur saja. Tolong aku untuk persembahkan ini kepada Abba. Terima kasih."
Ketika saya sedang mencurahkan perasaan-perasaan syukur saya ke dalam bejana tersebut, tiba-tiba ada suatu pemahaman batin yang saya terima. Pemahaman batin bahwa rasa syukur yang saya persembahkan itu adalah bunga-bunga harum semerbak yang Allah Bapa sukai. Seperti halnya pengorbanan-pengorbanan Santa Faustina adalah taburan bunga-bunga bagi Yesus, ternyata persembahan rasa syukur umat pun menjadi persembahan bunga harum semerbak yang menyenangkan hati Allah Bapa. Bunga harum semerbak yang Allah Bapa sukai.
Setelah saya menerima pemahaman batin tersebut lalu ada dorongan hati yang menyuruh saya untuk menuliskan hal tersebut dan membagikannya kepada banyak orang. Sehingga banyak orang pun bisa mengetahui bahwa Allah Bapa menyukai keharuman bunga syukur, bunga yang berasal dari setiap ucapan syukur, rasa syukur umat terhadap Tuhan.
Marilah para umat sekalian senantiasa bersyukur dalam segala sesuatu, dalam setiap hal, dalam setiap keadaan.
Walau dalam kesesakan dan kepahitan hidup serta penderitaan sekalipun, umat tetap berusaha untuk bersyukur. Dengan bersyukur maka Allah Bapa akan mencium harumnya bunga-bunga syukur yang umat persembahkan kepada-Nya dan mencurahkan kekuatan kepada umat sehingga umat tidak menjadi hancur dalam menjalani kehidupan yang berat di dunia ini.
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:17)
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
15 Mei 2022
HIS Little Servant
Yulianti Tay

