Allah Bapa Berbicara Kepada Anak-Anak-Nya (Pengalaman Pribadi)
Mengapa harus ada berdoa Rosario sebagai ucapan syukur dalam Novena 54 Hari Rosario?
Berdoa Rosario Sebagai Kebiasaan Berdoa
Apa pun Yang Terjadi, Kamu Harus Tetap Selalu Berdoa
Abba (Allah Bapa) Dalam Hidupku
Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6)
Saya terlahir di sebuah keluarga non-Katolik. Semasa saya masih kecil, orang tua saya kerap membawa saya ke kuil atau wihara Buddha untuk sembahyang. Orang tua saya hanya mengajarkan untuk sembahyang dengan memegang hio (dupa berupa batang panjang). Akan tetapi bagaimana cara sembahyang, apa yang harus diucapkan saat sembahyang dan ditujukan kepada siapa, saya tidak diajarkan sehingga saya selalu bingung, tidak tahu mau sembahyang apa. Sementara saya sudah masuk sekolah Katolik semenjak sekolah Taman Kanak-Kanak. Oleh karena itu, saya lebih terbiasa dan memahami cara berdoa Katolik. Itulah sebabnya mengapa kemudian saya memutuskan untuk menjadi Katolik.
Perjalanan saya untuk sampai dibaptis menjadi Katolik pun cukup rumit dan panjang. Saat di SMP (Sekolah Menengah Pertama) saya mengikuti kelas katekumen dengan guru agama sekolah saya. Akan tetapi, oleh karena tidak ada kegiatan lingkungan yang bisa saya ikuti saat itu maka guru agama saya pun kemudian menolak untuk meluluskan saya dari kelas katekumen sehingga saya tidak bisa dibaptis. Setelah itu saya mengikuti kelas katekumen lagi di wilayah paroki saya dan akhirnya saya dibaptis di usia 17 tahun. Saya merasa senang sekali dan lega saat itu, seakan saya baru saja berhasil melewati suatu tantangan berat.
Entah sejak kapan, saat berdoa saya menujukan doanya kepada Allah Bapa. Walaupun sebetulnya saya lebih sering mendengar tentang Nama Yesus, lebih tahu cerita-cerita mengenai Yesus, akan tetapi saya merasa lebih tertarik kepada Allah Bapa. Saya berpikir kalau Yesus itu saja sangat hebat dan berkuasa, maka apalagi Allah Bapa, pasti jauh lebih berkuasa. Jadi lebih baik saya berdoa langsung kepada Allah Bapa. Lagipula, saya merasakan ada perasaan akrab dan dekat kalau berdoa dengan menyapa Bapa. Seakan-akan saya memiliki seorang Bapa yang mengayomi dari Surga.
Sekitar tahun 2004-2005, suatu malam saya sedang bernyanyi seorang diri memuji Allah dan tiba-tiba saya menerima rahmat damai dan mendengar bisikan, "God loves you" (Tuhan mengasihimu). Seketika itu juga saya merasa sangat terharu atas cinta kasih Allah Bapa kepada saya. Perasaan damai yang tidak bisa saya lukiskan disertai rasa terharu yang sangat mendalam begitu menguasai diri saya sehingga air mata saya mengalir deras saat itu. Air mata haru karena saya merasa begitu dicintai oleh Tuhan.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa Allah Bapa menyukai musik. Sungguh, Allah Bapa sangat senang mendengarkan musik dan lagu pujian yang keluar dari hati umat. Itulah sebabnya mengapa nilai lagu pujian lebih dalam daripada doa.
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. (Mazmur 96:1-2)
Setelah pertobatan saya di Agustus 2019 dan saya menerima karunia Roh Kudus, sapaan saya kepada Allah Bapa berubah menjadi Abba. Sebelumnya saya memanggil-Nya Bapa. Namun, setelah Roh Kudus hadir dalam diri saya, dalam doa, mulut saya selalu memanggil-Nya Abba. Mengapa? Saya juga tidak tahu. Namun, dengan sapaan Abba, saya merasakan kedekatan yang lebih mendalam lagi dengan Allah Bapa. Saya semakin merasakan lebih mengenal dan memahami Abba, memahami kerinduan-kerinduan-Nya, memahami kecemburuan-Nya, memahami kekecewaan-Nya dan memahami kasih-Nya yang begitu besar kepada umat manusia ciptaan-Nya yang dianggap-Nya sebagai anak-anak-Nya.
Ketika saya menerima tugas dari Tuhan Yesus untuk menyebarkan Kerahiman-Nya dengan cara mendoakan orang-orang, membawa jiwa-jiwa mereka ke dalam Kerahiman Yesus melalui doa, maka saya menjadi lebih banyak berdoa kepada Tuhan Yesus. Sehingga saya menjadi jarang menyapa Abba dalam doa.
Hingga suatu pagi di September 2019, ketika saya sedang berada di dapur untuk memasak, tiba-tiba ada kerinduan untuk berdoa ke Abba lagi. Saat itu saya juga merasakan kerinduan Abba untuk saya berbicara dengan-Nya lagi dalam doa. Jadi saat itu, sambil mengupas dan memotong wortel, saya pun berdoa bicara kepada Abba. Di situ saya menyadari bahwa Abba menghendaki saya untuk tetap banyak bicara dengan-Nya seperti sebelum-sebelumnya, tidak sekedar di saat doa pagi saja, dengan tanpa mengabaikan tugas saya dari Yesus tentunya.
Saya tidak memerlukan waktu-waktu khusus untuk berdoa bicara dengan Abba karena kapan saja, di mana saja, selama hati saya sedang ingin berdoa atau saya merasakan panggilan Abba, maka saya akan menyapa dan menjawab Abba. Sambil memasak, sambil mengepel rumah, sambil mandi, sambil berjalan di jalanan, sambil beraktivitas, saya sambil bicara menyapa Abba.
Apa yang saya bicarakan? Apa saja yang ada di dalam isi hati atau pikiran saya saat itu, saya adukan dan bicarakan dengan-Nya, layaknya seorang anak berbicara dengan ayahnya.
Marilah para umat sekalian, sungguh sadarilah kehadiran Abba, kenalilah Abba dan hampirilah Abba untuk berbicara dengan-Nya. Tidak usah takut, tidak usah ragu, tidak usah sungkan untuk berbicara dengan Abba.
Abba itu bukan Allah yang menakutkan.
Abba itu Allah yang lembut dan sangat pengasih.
Adalah suatu kerinduan besar Abba sejak awal mula penciptaan untuk umat manusia datang menghampiri-Nya, memanggil-Nya Abba dan berbicara dengan-Nya.
Marilah, di saat dunia sedang dilanda kekhawatiran akan wabah virus Wuhan, membuat umat semakin menyadari betapa kecilnya umat, betapa kehidupan hanya berada di tangan Allah Sang Pencipta, maka inilah saatnya umat mencari Wajah Abba dan berlindung di dalam pelukan-Nya. Bagai seorang anak yang berlindung di dalam pelukan sang ayah.
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15)
Abba, have mercy
Lord Jesus, have mercy
Holy Spirit, have mercy
Holy Trinity, have mercy
2 Februari 2020
HIS Little Servant
Yulianti Tay

